“Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah meruntuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”
(Efs. 2:14-16)
Dalam masa pandemic ini, pemerintah dan protokol kesehatan menganjurkan masyarakat untuk melakukan kebiasaan baru demi mencegah dan membentengi diri dari penularan virus corona dengan “Empat M”, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan. Namun ternyata bagi sebagian orang “Empat M” itu belumlah cukup. Sehingga dengan banyaknya kasus OTG (Orang Tanpa Gejala) muncullah “Satu M” lagi yang akhir-akhir ini marak di dalam masyarakat kita yaitu “Mencurigai”. Ingat Saudara, mewaspadai itu memang suatu keharusan, tetapi jangan sampai kewaspadaan kita menjadi sebuah kecurigaan atau mencurigai, karena itu akan menimbulkan perseteruan yang mengakibatkan hilangnya damai sejahtera.
Kecurigaan, prasangka, dan sikap merendahkan antara orang Yahudi dan non-Yahudi di dalam Perjanjian Baru sama seriusnya dengan permusuhan antarras, etnik, dan bangsa di masa kini. Salah satu contoh dari sikap ini terjadi di Antiokhia antara Kefas/Petrus dengan Paulus. Paulus menceritakan kembali kejadian ini: “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat” (Gal. 2:11-12). Petrus telah mengalami hidup dalam kemerdekaan di dalam Yesus Kristus. Walaupun dia seorang Kristen Yahudi, dia mau makan bersama dengan orang-orang Kristen non-Yahudi. Tembok pemisah telah diruntuhkan dan sikap permusuhan telah diatasi. Inilah yang ingin dihasilkan oleh Kristus Sang Raja Damai, melalui kematian-Nya. Tetapi, ketika beberapa orang Yahudi konservatif datang ke Antiokhia, Petrus panik dan takut terhadap mereka maka ia menarik diri dari persekutuannya dengan orang-orang Kristen non-Yahudi.
Apakah yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika melihat hal ini? Apakah ia ikut dalam status quo? Menjaga kedamaian antara orang-orang Yahudi konservatif dan orang-orang Kristen Yahudi yang lebih moderat? Kunci dari sikap Paulus dapat kita temukan dalam Galatia 2:14, yaitu “Kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil….”. Ini merupakan pernyataan yang sangat penting. Pemisahan antara ras dan etnik juga dibahas dalam Injil. Katakutan dan penarikan diri Kefas/Petrus dari persekutuan antarras tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Yesus Kristus Raja Damai, rela mati untuk menghancurkan hal itu, namun Kefas membangunnya kembali. Disini kita dengan jelas melihat sikap Paulus. Ia tidak mengikuti status quo, dan tidak menjaga perdamaian yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Paulus menegur Kefas/Petrus di depan umum. “Aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (Gal. 2:14). Dengan kata lain, penarikan diri Kefas/Petrus dari persekutuan dengan orang-orang Kristen non-Yahudi memberitahukan kepada mereka: Anda harus menjadi orang Yahudi agar bisa diterima, padahal inilah yang ingin dihancurkan Kristus melalui kematian-Nya. Tuhan Yesus Kristus mati untuk menjadi pembuka jalan perdamaian antarras. Ritual dan ras tidak lagi menjadi dasar kebersamaan sebab Kristus menjadi dasarnya. Kristus telah menaati Taurat dengan sempurna. Segala aspek Taurat yang memisahkan bangsa-bangsa berakhir dalam Dia, Yesus Kristus Raja Damai. Amin, Tuhan Yesus memberkati. (AP29122020)
(RI28122020)
Pokok Doa:
- Mari kita berdoa untuk kegiatan Gereja dalam melaksanakan perjamuan Tuhan secara offline dan online. Agar jemaat dapat merasakan dan melaksanakan dengan baik dan benar;
- Berdoa untuk kebaikan para Panitia yang sudah berakhir masa pelayanan tahun 2020 dan berdoa bagi panitia-panita yang memulai pelayanan di tahun 2021;
- Mari mendoakan tim kesehatan dan para medis dalam melayani masyarakat yang saat ini semakin banyak OTG – Orang Tanpa Gejala.
