“Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.”
(Pkh. 5:4-5)
Menjadi dilema yang sulit kalau kita mau menjawab pertanyaan dari judul SRHI di atas? Kalau bernazar tetapi tidak mau menepatinya, Tuhan Allah mengatakan kita adalah orang-orang bodoh. Bahkan dalam Ul. 23: 21 dikatakan kita menjadi berdosa dan Allah menuntut kepada kita untuk nazar kita itu. Penulis kitab Pengkhotbah mengajarkan lebih baik kita tidak bernazar, dari pada bernazar tetapi tidak mau menepatinya.
Pada saat orang bernazar pada umumnya berada dalam situasi sulit, berbahaya atau dalam keadaan lemah dan di ambang putus asa. Hana berdoa minta untuk diberi momongan kepada Tuhan seperti orang mabuk karena tidak tahan sebagai seorang istri yang dipandang masyarakat mandul, apalagi selalu diejek madunya (1 Sam. 1: 1-14). Hana merasa menjadi perempuan berdosa, perempuan tidak berguna, terlebih sakit hati karena perlakuan Penina, madunya itu. Hana melakukan nazar dengan berdoa sungguh-sungguh, jika Tuhan beri anak laki-laki, anak tersebut akan dipersembahkan kepada Tuhan (1 Sam. 1: 11). Setelah dikabulkan Tuhan, pastilah Hana sangat bersukacita, tetapi pada akhirnya ia harus berpisah dengan anaknya itu karena harus menepati nazarnya mempersembahkannya kepada Tuhan (1 Sam. 1: 24-28). Bernazar menunjukkan tekad yang kuat untuk memohon kepada Tuhan mengenai pergumulan yang dialaminya, sekaligus mendorong semangat untuk mewujudkannya.
Mengetuk hati Tuhan dengan bernazar berbanding terbalik dengan merasakan berat dan sulitnya menepati nazar yang diucapkan. Artinya semangat bernazar yang harus dibarengi tekad mennepatinya, setelah persoalannya terselesaikan, sering timbul rasa berat hati untuk menepati janjinya, karena harus melakukan sesuatu yang diucapkan sebelumnya. Itu sebabnya penulis kitab Pengkhotbah menyarankan, lebih baik tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya (Pkh. 5: 5). Itu jauh lebih baik, daripada tidak mampu atau tidak rela menepati nazarnya.
Kita mengerti sekarang, dari pemahaman tersebut apa yang harus kita lakukan menjawab judul SRHI hari ini. Setiap orang dengan pertimbangan masing-masing bisa menentukan yang terbaik untuk dirinya, bernazar atau tidak bernazar di saat kondisi sulit dan memerlukan semangat dan penyerahan kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Pilihan apapun yang kita ambil, yakinilah bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita dalam menghadapi persoalan demi persoalan. Tuhan memberkati, Amin.
(RI18112020)
Pokok Doa:
- Doakan keamanan Indonesia sepulangnya Imam Besar FPI tidak ada gangguan ter hadap masyarakat kegiatan dapat berjalan dg tenang;
- Doakan Jemaat GBIK yg merindukan Pasangan Hidup, pekerjaan, dan buah hati (anak) dalam rumah tangganya Tuhan Yesus memberi tepat pada waktunya;
- Doakan ketua petugas baru tahun pelayanan 2021 di GBIK bersiap diri, komitmen dan dapat kerja sama untuk memajukan pekerjaan Tuhan.
