Musa sudah memberi perintah ini, ‘Hormatilah ayah dan ibumu,’ dan ‘Barangsiapa mengata-ngatai ayah ibunya, harus dihukum mati.’ Tetapi kalian mengajarkan: Kalau orang berkata kepada orangtuanya, ‘Apa yang seharusnya saya berikan kepada ayah dan ibu, sudah saya persembahkan kepada Allah,’ maka kalian membebaskan orang itu dari kewajiban menolong ayah ibunya. Jadi dengan ajaranmu sendiri yang kalian berikan kepada orang-orang, kalian meniadakan perkataan Allah. Masih banyak hal seperti itu yang kalian lakukan.
(Mrk. 7: 10-13 BIMK)
Di lingkungan manapun selalu ada kebiasaan, adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh suku bangsa, bangsa dan golongan/kelompok yang bersangkutan. Mereka percaya itu adalah peninggalan leluhurnya yang harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan sebagai penghargaan atas leluhurnya. Begitu kuatnya usaha mereka untuk itu, sampai-sampai mengalahkan kepentingan keluarganya, tanggung jawab pekerjaan profesionalnya, bahkan rela mengabaikan keyakinannya.
Pernyataan Tuhan Yesus yang amat keras kepada orang Farisi dan ahli Taurat dalam nats di atas, disampaikan setelah mereka menanyakan mengapa murid-murid Tuhan Yesus makan tidak dengan membasuh tangan terlebih dahulu, padahal adat istiadat nenek moyang mengharuskan demikian (Mrk. 7: 2, 5). Bagi orang Yahudi, adat istiadat harus dijalankan demi kelestariannya. Kepatuhan kepada adat istiadat itu begitu mutlak, karena mereka tidak ingin mengotori tangannya dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan adat istiadat itu. Di antaranya adalah setiap kali akan makan haruslah mencuci tangan terlebih dahulu. Demikian juga setelah bepergian, sebelum masuk rumah mereka harus mencuci kaki terlebih dahulu, dan masih banyak aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan lainnya.
Memang di lingkungan dan komunitas manapun selalu ada aturan yang tidak tertulis, yang harus dijaga untuk menciptakan suasana kebersamaan dengan warga lainnya. Aturan tidak tertulis atau adat istiadat itu ada yang sesuai dengan firman Tuhan, misalnya hormat kepada orangtua (Kel. 20: 12), dan masih banyak yang lainnya. Namun demikian harus kita sadari tidak sedikit adat istiadat yang bertentangan dengan firman Tuhan, misalnya mendoakan orang yang sudah meninggal dan lain-lain. Adat istiadat kita lakukan sepanjang tidak bertentangan dengan firman Tuhan, sebaliknya firman Tuhan harus kita lakukan dengan tetap menghormati adat istiadat, walau tidak harus menaatinya. JIka adat istiadat itu senada dengan firman Tuhan, otomatis kita melakukan di saat kita taat akan firman Tuhan.
Pada akhirnya, ketaatan akan firman Tuhan haruslah menjadi pedoman atau dasar yang nomor satu dalam setiap sikap dan perilaku kita sehari-hari. Adat istiadat, kebiasaan masyarakat, atau apa kata orang, janganlah mengalahkan posisi firman Tuhan dalam kehidupan kita. Jika mungkin dapat berjalan bersama-sama itu lebih baik, tetapi yang terutama adalah kebenaran firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI12082020)
Pokok Doa:
- Mari kita mengucap syukur atas Gereja kita yang terus menerus memberi yang terbaik bagi jemaat. Live streaming, zoom dan google meet yang setiap minggu dapat diikuti para jemaat melalui Kebaktian dan Sekolah Minggu;
- Mari kita mengucap syukur Panitia Pubdok atas kerjasama mereka dapat bekerja secara luarbiasa dalam membuat acara berjalan dengan baik dan menarik;
- Mari mengucap syukur atas Ketegasan Presiden Jokowi dalam memimpin Negara Indonesia melalui rapat kerjasama dengan kabinet dan para Menteri.
