“Perempuan itu memiliki seorang saudara yang bernama Maria. Maria itu duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri. Suruhlah ia membantu aku”
(Luk. 10: 39-40)
Marta dan Maria adalah kakak beradik yang percaya Tuhan Yesus. Mereka tinggal bersama dengan Lazarus – adik laki-lakinya – di Betania (Yoh. 11:1-2) yaitu suatu kampung yang tidak terlalu jauh dari Yerusalem. Mereka bertiga sangat mengasihi Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus pun sangat mengasihi mereka. Mereka menjadi percaya ketika Tuhan Yesus berkeliling dari kota ke kota, dari desa ke desa. Ketika Tuhan Yesus berkeliling sampai Betania, Marta dan Maria menerima Dia di rumahnya.
Mari kita perhatikan apa yang dilakukan Maria dan apa yang dilakukan Marta. Maria duduk dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya (Luk. 10:39). Ketika memasuki rumah mereka, Tuhan Yesus berbincang-bincang dengan murid-murid-Nya dan Maria mendengarkan dengan teliti apa yang dikatakan-Nya. Maria menyadari, kesempatan yang baik harus ia pergunakan untuk mendengar firman pengajaran-Nya, karena kesempatan itu langka diperolehnya. Ini mengandung makna bahwa Maria dapat berkosentrasi mendengar firman-Nya lebih dari pada perhatiannya kepada hal-hal yang lain. Sementara Marta – saudaranya – melakukan sesuatu yang tidak kalah penting yakni menyiapkan hidangan bagi Kristus dan murid-murid-Nya. Hal ini juga merupakan perkara yang penting, karena tamu harus dihormati, apalagi tamunya adalah Tuhan Yesus pribadi yang menjadi perbincangan banyak orang karena ajaran dan mujizat-Nya. Marta dan Maria melayani sesuai dengan titik perhatian masing-masing, dan sampai di sini tidak ada persoalan karena melayani harus sesuai dengan telenta dan kecakapan serta kemauan masing-masing. Masalah baru timbul setelah terlontar pernyataan dan pertanyaan Marta dalam Luk. 10: 40, “….Ia (Marta) mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah ia membantu aku.” Keluhan Marta ini membuktikan bahwa sebenarnya Marta marah besar kepada Maria yang duduk manis di dekat kaki Yesus. Marta lebih mementingkan perkara-perkara duniawi sedangkan Maria mengutamakan perkara rohani. Pertentangan itu menyebabkan dengki dan iri hati.
Terkadang terlalu memperhatikan perkara duniawi dapat menjadi penyebab dengki dan iri hati dalam pelayanan kita. Kenapa dia sering diminta menjadi petugas yang dilihat banyak orang, tetapi saya hanya diminta untuk pelayanan belakang layar. Melayani Tuhan hendaknya dilandasi dengan motivasi yang benar, bukan supaya diri ini menjadi terkenal, tetapi nama Tuhan Yesus harus makin ditinggikan dengan pelayanan kita. Mari kita melayani dengan tulus, jangan pernah iri dan dengki kepada orang lain yang melayani lebih baik. Setiap orang diberi karunia yang berbeda supaya saling melengkapi dalam pelayanan bersama. Selamat melayani tanpa dengki dan iri hati. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI20072020)
Pokok Doa:
- Doakan para Pendeta masih harus melakukan sosial distancing, kiranya Tuhan beri hikmat dapat melayani dgn cara-cara yang kreatif;
- Berdoa utk para misionaris diseluruh dunia, karena Covid 19 Tuhan beri kesehatan agar tetap melayani dengan penuh kasih dan sukacita;
- Berdoa untuk Gereja – gereja yang tanpa cadangan uang tunai Tuhan penuhi kebutuhan mereka setiap harinya.

Melayani tanpa menjengki