“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan sesama.”
(Ef. 6: 5-7)
Sadar atau tidak, setiap hari kita selalu menggunakan hati untuk menilai sesuatu, untuk mengucapkan respon kita terhadap sesuatu, untuk bersikap setelah melihat atau memandang sesuatu, dan akhirnya untuk melakukan sesuatu yang menjadi keputusan atau harapan kita tentang sesuatu. Terkadang kita pergunakan hati yang jujur , namun terkadang juga kita tidak jujur menggunakan hati kita.
Apa yang ada dalam hati kita sebenarnya adalah merupakan jati diri kita. Artinya apa yang terlintas dalam hati kita sebenarnya itu adalah kerinduan kita. “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Ams. 27: 19). Jadi siapa dan bagaimana diri kita tidaklah dapat diketahui dari apa kata orang lain sekalipun itu orang terdekat kita. Apa yang kita katakan, kita lakukan adalah cermin dan bersumber dari apa yang ada dalam hati kita. Kata lain dari hati adalah hasrat. Ada hal-hal tertentu yang terhadapnya kita berhasrat dan ada beberapa hal lain kita kurang perhatian. Beberapa pengalaman hidup menggairahkan kita sementara pengalaman lainnya tidak kita ingat-ingat. Ini menunjukkan sifat hati kita.
Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita sedang melayani Tuhan dengan sepenuh hati? Salah satu tanda yang mendasar adalah antusias. Ketika kita melakukan apa yang kita senangi, tidak diperlukan orang lain untuk memberi motivasi atau tantangan kepada kita, atau orang lain untuk mengawasi kita. Kita tidak memerlukan penghargaan, tepuk tangan atau bayaran, karena kita melakukan dengan senang, sadar dan sesuai dengan hati/hasrat kita. Hasrat yang membara memberi dorongan untuk melakukannya. Demikian pula pelayanan yang kita lakukan, jika kita melakukan dengan tulus hati, maka apapun yang terjadi kita merasakan gairah atau antusias yang luar biasa walaupun tidak ada yang memotivasi, tidak ada yang memberi pujian.
Setelah mengerti bagaimana melayani dengan hati, mari kita lihat pelayanan kita. Apakah selama ini pelayanan kita sudah kita lakukan dengan tulus hati, sudah kita lakukan dengan penuh antusias? Apakah terkadang masih ada ganjalan-ganjalan yang membuat kita melayani tidak sepenuh hati? Jika itu yang terjadi, kita perlu memurnikan motivasi pelayanan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan yang melayani dengan hati. Tuhan memberkati, Amin.
(RI15072020)
Pokok Doa:
- Mendoakan masyarakat yang tinggal di wilayah Gunung Merapi diberikan keselamatan dari ancaman bencana alam;
- Doakan para calon baptisan yang akan memberikan kesaksian di Ibadah Doa via Zoom malam ini , kiranya mereka dengan sukacita dan tenang bisa menyampaikan kesaksiannya untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus;
- Mendoakan jemaat yang sedang menyiapkan pernikahan di tahun ini , diberikan hikmat Tuhan Yesus dan kesehatan , sehingga memasuki masa pernikahan dengan sukacita dan mengandalkan Tuhan Yesus.
