“Tetapi jawab Ayub kepadanya: ”Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”
Ayub 2:10
Bagaimana bisa kita memuliakan Tuhan ditengah situasi sulit? Bagaimana bisa kita memuliakan Tuhan ditengah duka dan lara? Dan bagaimana bisa kita memuliakan Tuhan kalau kita tidak sedang baik-baik saja? Agaknya pertanyaan diatas realistis ya? Pertanyaan yang masuk akal dan dapat dimengerti sebagai manusia. Tetapi acapkali pertanyaan tersebut didasarkan pada emosi sehingga lupa menambahkan kata ‘cara’ didalam pertanyaan tersebut. Karena jika pertanyaan tersebut ditambahkan kata ‘cara’, maka pertanyaan tersebut akan beralih konotasinya kearah yang lebih baik dan bernilai positif karena mengandung “upaya untuk memuliakan Tuhan”.
Pertanyaan ‘bagaimana bisa’ agaknya cenderung diucapkan oleh orang percaya yang pesimis dan tidak berpengharapan. Pesimis akan kemampuan Roh Kudus untuk membawa, membimbing kita memuliakan Tuhan dalam situasi sulit. Berbeda dengan pertanyaan ‘bagaimana cara’ yang memiliki muatan arti upaya orang percaya untuk berusaha menemukan cara untuk memuliakan Tuhan ditengah situasi sulit yang dialaminya.
Contoh dari apa yang disebutkan diatas tergambar dalam kisah Ayub. Dalam kisah tersebut isteri Ayub cenderung memakai pertanyaan ‘bagaimana bisa’ untuk merespon situasi sulit yang terjadi. Bahkan bukan hanya ‘bagaimana bisa’ saja, isteri Ayub menambahkan bumbu-bumbu jahat dibelakang pertanyaan tersebut. Hal ini tertulis dalam Ayub 2:9 ‘masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? (bagaimana bisa), kutukilah Allahmu dan matilah!’. Perkataan tersebut muncul dari isteri Ayub karena ia hanya berfokus pada dirinya yang telah mengalami malapetaka sehingga tidak dapat memuliakan Allah.
“Kalau kita terlalu fokus pada diri sendiri, maka kita tidak akan dapat memikirkan bagaimana caranya untuk memuliakan Tuhan”
Respon Ayub sangatlah berbeda dimana ia memilih untuk memuliakan Tuhan ditengah permasalahan yang ia hadapi (Ayub 2:10). Bahkan pada pasal-pasal selanjutnya kita dapat melihat sebuah upaya dari Ayub untuk dapat memuliakan Tuhan ditengah permasalahan. Ayub tau bahwa pribadi yang benar tidak akan menyalahkan Tuhan ditengah kondisi yang memprihatinkan, tetapi sebaliknya berusaha untuk mencari cara memuliakan Tuhan.
Oleh sebab itu, marilah kita berusaha sama seperti Ayub yang tidak fokus pada dirinya sendiri sehingga kita dapat mencari cara dan berusaha untuk memuliakan Tuhan walaupun kita sedang diperhadapkan dengan permasalahan.
“Pertanyaan bagaimana cara untuk memuliakan Tuhan perlu terus ditanyakan didalam sanubari untuk menjadi pematik dan sarana instropeksi agar kita dapat menjadi pribadi yang selalu berusaha memuliakan Tuhan disetiap musim kehidupan”
Tuhan Yesus memberkati
YG081225
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 8 Desember 2025
1. Mengucap syukur Ibadah Adven 2 sudah berjalan dengan baik, kiranya damai dan sukacita selalu bersama kita.
2. Berdoa untuk acara Natal WBI dan persekutuan PBI tanggal 9 Desember 2025 supaya dapat berjalan dengan lancar dan cuaca cerah sehingga banyak Jemaat yang hadir.
3. Berdoa untuk kondisi perekonomian wilayah Sumatera supaya segera Tuhan pulihkan.
Pokok Doa untuk Cabang Marga Mulya, Monterado – Kalimantan Barat
1. Berdoa untuk setiap pergumulan Jemaat, kiranya Tuhan memberikan jalan keluar sehingga Jemaat memperoleh kelegaan.
2. Doakan supaya Jemaat ikut serta dalam ber-PI melalui kehidupan yang benar di tengah Masyarakat, memancarkan kasih Tuhan Yesus Kristus kepada sesama.
3. Berdoa untuk pelayanan Pendeta Natanael beserta keluarga supaya diberikan kesehatan dan berkat yang cukup. Serta kerinduan untuk memiliki buah hati dikabulkan oleh Tuhan.
