Bacaan Alkitab : Ulangan 15 – 18
(Kurun waktu : diperkirakan 1.444 – 1.406 S.M.)
“Mencegah Kerusakan Moral”
download versi word file : Renungan Harian Tgl 19 Maret
Immoralitas, ketidak-adilan dan pemutar-balikan kebenaran di lembaga hukum, perlakuan yang tidak manusiawi, ketamakan, dan juga kelaliman; bagaimana caranya mencegah kerusakan moral? Selain diperlukan hubungan pribadi dengan Allah, Allah juga memberikan ketentuan-ketentuan bagi ummat Israel agar terhindar dari kerusakan moral yang dapat menyebabkan mereka terusir dari Tanah Perjanjian. Kita pun dapat mengaplikasikan beberapa prinsip yang sama di dalam kehidupan kita, sehingga kita pun dapat terhindar dari kerusakan moral.
Ada banyak hal yang diperintahkan Allah untuk dilakukan ummat Israel, sebelum Ia membawa mereka ke Tanah Perjanjian (ketentuan-ketentuan khusus yang ditetapkan mengikuti Perjanjian Kekuasaan). Langkah-langkah yang cermat dilakukan untuk mencegah kerusakan moral sebagai pengaruh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yang harus mereka tumpas dan usir dari tanah Kanaan. Jika mereka tidak mengikuti arahan dari TUHAN, maka mereka akan sama seperti menumbuhkan penyakit kanker rohani, yang dapat membuat Allah harus mengusir mereka dari tanah yang dijanjikanNya, sama seperti yang segera akan dilakukan TUHAN terhadap penduduk Kanaan. Apa yang dapat dilakukan ummat Israel untuk mencegah ketidak-taatan yang berakibat parah tersebut? Apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah agar kita tidak kehilangan berkat-berkat Allah?
Ummat Israel akan segera menyeberangi Sungai Yordan dan memperoleh warisan mereka di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan TUHAN. Beberapa dari mereka akan menjadi kaya raya, sedangkan yang lainnya mungkin kurang beruntung. Untuk mencegah pengusaha dan pemilik tanah yang kaya raya agar tidak menjadi tamak, maka mereka diperintahkan untuk memperhatikan dan mengurus kepentingan saudara-saudara mereka sesama ummat Israel lainnya. Di tanah yang “berkelimpahan susu dan madu” (pernyataan kemakmuran dalam hasil pertanian), akan menjadi mudah tergoda untuk menggunakan atau bahkan memperdayakan sesamanya kaum Israel untuk tujuan mendapat keuntungan. Mereka tidak boleh memperbudak sesamanya yang kurang beruntung, tetapi mereka dapat saja menggunakan jasa sesamanya tersebut sebagai hamba mereka selama masa waktu enam tahun. Pada tahun yang ke tujuh, maka segala hutang mereka dapat dibatalkan dan mereka diperbolehkan pergi dengan bebas. Ini berbeda dengan tahun Yobel, di mana baik orang maupun property yang telah dijual, kemudian dikembalikan kepada setiap keluarga, setiap lima puluh tahun. Di setiap tahun yang ke tujuh, tidak hanya hutang hambanya dimaafkan dan dihapuskan, tetapi juga orang yang berada tersebut diwajibkan untuk memberikan sejumlah uang sebagai modal bagi hamba-hambanya yang terdahulu tersebut, untuk memulai hidup yang baru. Selain hal tersebut, kaum Israel diwajibkan untuk mempersembahkan hasil panen gandum mereka yang pertama, serta ternak dan hewan peliharaan yang sulung, bagi pelayan-pelayan di Tabernakel TUHAN, yaitu suku Lewi, untuk pemeliharaan bagi hidup mereka. Untuk mencegah agar kita tidak terjerat dalam dosa ketamakan, kitapun di wajibkan untuk memberi dengan murah hati kepada orang-orang yang berkekurangan, dan juga untuk memberi persembahan bagi pelayanan kepada TUHAN.
Hal yang ke dua, untuk mencegah agar ummat Israel tidak terjatuh kedalam dosa mengikuti adat istiadat bangsa-bangsa asing yang akan mereka usir dari tanah Kanaan, maka TUHAN menetapkan hari-hari raya bagi ummat Israel. Perintah yang pertama telah diberikan dengan sangat rinci di Gunung Horeb di Sinai kepada generasi pertama ummat Israel yang keluar dari Mesir (Imamat 23), dan sekarang Musa mengingatkan generasi yang ke dua tentang perlunya melanjutkan pelaksanaan perintah-perintah Allah tersebut. Berikut ini adalah waktu untuk merayakan hari-hari raya ummat Israel dan bersukacita; Tiga kali dalam setahun, para laki-laki Israel diwajibkan pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari-hari besar keagamaan. Tujuan perayaan-perayaan tersebut adalah untuk bersyukur dan mengingat hal-hal yang telah dilakukan Allah bagi ummat Israel. Pada hari yang ke empat belas pada bulan yang pertama, ummat Israel wajib berkumpul untuk mengingat pembebasan mereka dari bangsa Mesir (Hari Raya Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi). Lima puluh hari berikutnya, orang Israel berkumpul kembali untuk membawa korban sajian buang sulung dari panen mereka, disebut juga Hari Raya Buah Sulung atau Hari Raya Minggu. Pada bulan yang ke tujuh, mereka berkumpul kembali untuk merayakan Hari Raya Ucapan Syukur, yaitu Hari Raya Tabernakel. Hari raya ini dimulai dengan upacara pertobatan dan pemulihan bagi seluruh rakyat (Hari Raya Pendamaian) dan beberapa hari untuk beristirahat. Hari raya ini diikuti dengan periode seminggu di mana ummat Israel memberi ucapan syukur atas hasil panen mereka dan berkumpul di kemah-kemah kecil terbuat dari cabang-cabang pohon palma, untuk mengingat pemeliharaan TUHAN atas ummatNya selama empat puluh tahun masa pengembaraan di padang gurun.
Meskipun saat ini negara kita bukanlah negara agama (teokratis), tetapi pernyataan ucapan syukur dan ikrar penyerahan diri kepada Allah tetap sama pentingnya bagi kita hari ini sama seperti pada jaman ummat Israel tersebut. Ummat Kristiani akan menjalankan hal yang baik dengan mengawali tahun baru melalui mengingat-ingat hal-hal yang telah dilakukan Kristus bagi mereka, yang telah membebaskan dari dosa-dosa dan memberi kehidupan kekal bagi mereka, serta dengan cara memperbaharui komitmen mereka kepada TUHAN. Dengan cara pemeliharaan Tuhan yang bersifat sempurna, ternyata saat perayaan Ucapan Syukur dan Hari Raya Paskah jatuh bertepatan dengan perayaan musim gugur dan musim semi di Israel. Perayaan Paskah bagi ummat Kristiani dimaksudkan untuk memperingati kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus dari antara orang mati, untuk memberikan kehidupan rohani. Walaupun kita tidak diperintahkan untuk memperingati suatu hari khusus tentang Ucapan Syukur (Roma 14 : 5 – 6), tetapi mengucap syukur adalah baik untuk dilakukan (Mazmur 100). Dan jika kita memperingati Hari Raya Paskah maupun Ucapan Syukur, kita perlu mengenangnya dengan benar tentang arti segala perayaan tersebut, untuk mencegah terjadinya adaptasi dengan budaya orang-orang yang tidak mengenal Allah. Orang Kristen harus memperhatikan secara khusus tentang hal-hal tersebut agar dapat memberi contoh yang baik bagi anak-anak kita dan memberi kesaksian bagi masyarakat, sehingga berkat dan karunia kehidupan kekal dari Allah tidak akan dilupakan.
Hal yang ke tiga, untuk mencegah pengusiran atas ummat Israel, maka hukuman mati dilaksanakan bagi setiap orang yang didapati sedang menyembah illah lain selain Allah yang berkuasa di surga, ataupun tengah mempengaruhi orang lain untuk menyembah illah lain. Allah adalah Allah yang cemburu dan menghendaki bahwa Israel hanya menyembah Allah saja. Tentu saja Allah juga akan tersinggung jika Ia, Pencipta yang Maha Kuasa dan Pemelihara dunia dengan segala isinya, harus digantikan dengan benda-benda mati ciptaan manusia dari kayu, batu ataupun logam mulia yang tidak dapat melihat, mendengar ataupun menolong dengan cara apapun. Orang Israel yang melanggar akan dibinasakan untuk membersihkan kejahatan yang dapat menjalar di antara ummat Israel, seperti yang disebutkan di dalam kitab Ulangan 17 : 7 dan 12. Sebab bukan saja merupakan penghinaan bagi Allah jika kita menyembah berhala, menyembah “dewa-dewa” kekafiran tersebut berarti juga melakukan praktik prostitusi, pengorbanan jiwa anak-anak serta hal-hal keji lainnya, dan oleh karenanya maka Allah akan membinasakan orang-orang di Kanaan tersebut. Pada jaman ini, kita tidak diperintahkan untuk membunuh orang-orang yang tidak mau menyembah Allah. Kita tidak terlibat dalam Perang Suci membela nama TUHAN. Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi para musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Matius 5 : 44). Namun demikian, kita harus hidup takut akan Allah dan jangan membangkitkan murka TUHAN dengan sikap-sikap yang dapat menyebabkan orang lain tidak mau percaya kepada TUHAN. Kadang-kadang dalam pertumbuhan iman, kita dapat saja gagal ataupun terjatuh, tetapi janganlah kita menyebabkan orang lain tersandung.
Hal yang ke empat, system peradilan diberlakukan sehingga kasus-kasus hukum yang tidak dapat diputuskan oleh para tua-tua Israel, dapat dibawa ke hadapan para imam di Yerusalem. Para imam harus memutuskan perkara tersebut sesuai dengan hukum Allah dan harus bersikap adil. Pengadilan dari para imam tersebut dianggap sebagai Mahkamah Agung di Tanah Perjanjian tersebut. Peradilan yang dilakukan oleh para imam tersebut khususnya harus peka dan memberikan rasa adil bagi para yatim piatu, janda dan orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka. Sistem peradilan dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kekacauan dan tindakan-tindakan yang melawan hukum. Putusan-putusan pengadilan yang adil dan benar akan memberi rasa damai. Allah memerintahkan ummatNya dari berbagai jaman untuk bertindak adil, penuh belas kasihan dan pengampunan serta rendah hati (Mika 6 : 8).
Hal yang ke lima, kejelian untuk melihat kebutuhan masa depan, akan menghindarkan masalah yang timbul. Allah mengetahui bahwa suatu saat orang Israel menghendaki seorang raja yang dapat memimpin hidup mereka di dunia (I Samuel 8), meskipun TUHAN adalah raja yang sesungguhnya bagi mereka. Allah tidak senang akan keinginan ummat Israel tentang hal ini, tetapi kemudian Ia menetapkan ketentuan dan peraturan untuk memilih seorang raja,sehingga raja yang terpilih tersebut tidak akan memimpin bangsa tersebut untuk berbalik dari menyembah dan mengikut TUHAN. Allah melakukan hal ini sehingga orang Israel boleh memiliki kesempatan yang terbaik untuk menerima segala berkatNya. Seperti yang akan kita pelajari kemudian, ternyata beberap raja Israel tersebut mematuhi segala perintah Allah, tetapi kebanyakan dari para raja tersebut tidak mau taat kepada TUHAN.
Hal yang ke enam, untuk mencegah penolakan dan pengusiran orang Israel dari tanah yang dijanjikan TUHAN tersebut, maka hukuman mati akan dilaksanakan bagi ummat Israel yang kedapatan melakukan praktik-praktik sihir dan pertenungan sama seperti bangsa-bangsa asli di Kanaan yang tidak mengenal Allah. Pengharapan dan ketergantungan hidup ummat Israel tidak boleh didasarkan kepada setan dan nabi-nabi palsu, melainkan hanya kepada TUHAN saja. TUHAN menjanjikan untuk memberikan nabi-nabi yang seperti Musa, yang dapat mereka dengarkan dan andalkan (Ulangan 18 : 15). Dalam konteksnya secara langsung, nabi yang benar ini mungkin mengacu kepada Yosua. Pada akhirnya nanti, nabi yang dinubuatkan tersebut adalah Yesus Krisuts (Kis. R. 3 : 18 – 26). Bagaimana mereka dapat mengetahui tentang siapakah nabi yang benar yang berasal dari TUHAN? Ujian bagi nabi TUHAN yang benar adalah ketepatan nubuatannya. Segala sesuatu yang dinubuatkannya haruslah dengan tepat digenapi seperti yang telah diucapkannya dan juga sesuai dengan Firman Allah. Ujian ini berguna juga bagi kita yang hidup di jaman kini. Orang-orang yang menyatakan bahwa ia memperoleh kata-kata nubuatan dari TUHAN harus dapat membuktikan konsistensi ucapan tersebut dengan Firman Allah yang tertulis. JIka tidak demikian, maka kita tidak perlu mendengarkan perkataan mereka meskipun mereka terkesan sangat memiliki pengetahuan rohani, karismatik ataupun disukai. Mereka dapat saja menipu kita dan membahayakan hak warisan kita di surga. Mendengar dan memperhatikan Firman Allah dengan sungguh-sungguh, akan mencegah kita menjadi tersesat.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Milikilah hubungan pribadi dengan Allah melalui pengenalan akan Yesus Kristus ;
- Berikanlah dengan murah hati kepada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan Anda, dan juga kepada TUHAN sumber berkat bagi hidup Anda ;
- Ingatlah selalu akan hal-hal baik yang telah dilakukan TUHAN bagi diri Anda. Rayakanlah Ucapan Syukur dan Hari Raya Paskah dengan benar sesuai perintah TUHAN dan berikanlah kesaksian secara teratur tentang pekerjaan-pekerjaan Allah di dalam hidup Anda ;
- Yesus berfirman agar kita mengasihi para musuh dan berdoa bagi orang-orang yang menganiaya diri kita. Tetapi kita juga harus hidup takut akan TUHAN dan tidak membangkitkan murka Allah dengan hal-hal yang dapat menghalangi orang lain untuk percaya kepada TUHAN ;
- Mintalah bantuan TUHAN untuk mendapat visi guna mencegah masalah di kemudian hari ;
- Bertindaklah dengan benar dan adil, penuh belas kasihan dan jalani hidup dengan sikap rendah hati di hadapan Allah (Mika 6 : 8b).
- Firman Allah mencegah kita agar tidak tersesat ;
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Firman TUHAN di dalam kitab Ulangan 15 : 4, 10 & 11menyatakan hal yang perlu dicermati untuk menjawab tentang masalah kemiskinan : “(15:4) Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka,… (15:10) Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. (15:11) Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”
Mungkin Firman TUHAN di atas dapat menjawab tentang mengapa masih banyak terjadi kemiskinan di negara-negara di dunia ini, seolah-olah kenyataan yang dikehendaki di dalam kerajaan surga telah gagal dilaksanakan di dunia; apakah menurut kita, perintah untuk membagikan sumber daya yang dimiliki kepada kaum miskin dan orang-orang yang memerlukan uluran tangan masih berlaku sampai saat ini? Apakah kita sendiri sudah melakukan perintah Allah tersebut dan dengan sukarela membantu orang-orang yang memerlukan bantuan kita? Seberapa seringkah kita melakukan perintah TUHAN tentang hal ini?
- Di dalam kitab Ulangan 16 : 18, Allah memberikan perintah berkenaan dengan pengangkatan hakim-hakim: “Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kauangkat di segala tempat yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil.” Setelah kitab Ulangan, kita akan melihat kitab Yosua dan kemudian Hakim-Hakim. Tetapi kemudian, orang Israel masih belum puas dengan diberikannya para hakim yang menolong hidup mereka… mereka menghendaki seorang raja duniawi….
Siapakah yang menjadi raja di dalam kehidupan kita saat ini? Mengapa demikian? Apakah Yesus sebagai Raja, dan hanya Dia saja Raja, sudah cukup bagi kita, atau pernahkah kita secara tidak sadar telah memprioritaskan raja-raja yang lain dalam hidup kita, termasuk mungkin kepentingan diri kita sendiri? Bagikanlah.
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Kolose 3 : 5 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”

Selamat pagi dan selamat hari Minggu bagi para pembaca terkasih, kami mohon maaf atas keterlambatan penayangan Renungan Harian hari ini, disebabkan oleh hal tehnis; Kiranya Bapak/Ibu/Saudara tetap bersemangat menjalankan Saat Teduh dari bahan pembacaan seluruh ayat Alkitab secara kronologis ini. Terimakasih banyak dan Tuhan Yesus memberkati!
Shalooom, sangat besar harapan sy,respon/ balasan terhadap jurnal renungan harian GBIK ini bisa dikaji antar/inter pembaca via email address ini. Saling ber interaksi mengisi gap yg ada, tdk hny untuk kalangan tertentu saja. Gbu all
Selamat pagi dan terima kasih banyak untuk sarannya dear Kak Christine Toisuta, benar, kami harapkan kita dapat saling berbagi pendapat atau kesaksian apapun yang relevant dengan topik Renungan Harian setiap harinya. Tidak perlu takut salah, karena intinya adalah kita ingin menciptakan komunitas yang bertumbuh bersama, saling berbagi kasih dan saling menguatkan melalui media renungan online ini.
“Amin” dan Tuhan Yesus memberkati!