Bacaan Alkitab : Bilangan 31
(Kurun waktu : diperkirakan 1.444 – 1.406 S.M.)
“Pembalasan dan Upah”
download versi word file : Renungan Harian – Tgl 11 Maret
Pembalasan
Pembalasan Allah atas dosa seseorang adalah hal yang kebanyakan orang dan bahkan juga orang Kristiani tidak akan suka untuk membicarakannya. Oleh karena pembalasan dari Allah ini maka beberapa orang menganggap adanya dua kepribadian Allah, yaitu Allah di dalam kitab Perjanjian lama, yang dianggap kejam dan tanpa belas kasihan, dan pribadi Yesus di dalam Perjanjian Baru yang dianggap penuh kebaikan dan kasih, kepenuhan pribadi Allah yang berdiam di dalam manusia, dan mampu mengadakan berbagai mujizat. Mengapa banyak orang berpikir seperti itu? Hal itu disebabkan karena mereka tidak membaca seluruh ayat di dalam Alkitab dengan sungguh-sungguh. Hari ini kita akan melihat tentang suatu konsep di mana Allah mengadakan pembalasan atas dosa manusia. Sebenarnya ini adalah pengajan yang terdapat di seluruh bagian Alkitab, tetapi memang benar bahwa hal tentang pembalasan dari Allah tersebut lebih banyak ditemui di dalam kitab Perjanjian Lama; ada ribuan tahun sejarah yang tercatat di dalam Perjanjian Lama, dibandingkan dengan hanya 100 tahun sejarah yang tertulis di Perjanjian Baru. Namun demikian, akan mengagetkan banyak orang, bahwa didalam masa kehidupan Yesus di dunia, Ia banyak berbicara juga tentang adanya saat penghakiman, dan kelak pada akhir riwayat bumi ini, Yesus yang rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih, akan menjadi Raja dan akan melakukan pembalasan atas musuh-musuhNya (Wahyu 6 : 10; Wahyu 19 : 1-2). Namun tetap saja konsep tentang pembalasan dari Allah atas dosa manusia, membuat kita tidak nyaman. Bagaimana cara yang tepat untuk memahami tentang pembalasan Allah?
Allah adalah Allah yang sungguh sempurna di dalam kebenaran. Di dalam nyanyiannya Musa mengajarkan ummat Israel tentang karakter Allah :
“(32:3)Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita, (32:4) Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” (Ulangan 32 : 3-4)
Pembalasan Allah didasarkan atas sifatNya yang penuh kasih setia, kekudusan, adil dan benar. Olah karena kasihNya, maka Ia menunggu selama 400 tahun agar ummatNya di Kanaan mau bertobat (dosa orang Amori), tetapi nyatanya mereka tidak mau bertobat. Mereka menjadi orang-orang yang sangat jahat – a susila secara seksual, kejam, dan bahkan seringkali mempersembahkan anak-anak mereka sendiri sebagai korban bakaran bagi dewa-dewa kafir mereka. Oleh karena kasihNya, maka Allah membebaskan ummat Israel dari perbudakan orang Mesir, melindungi dan memelihara hidup mereka. Atas dasar kasihNya, maka Allah membuat perjanjian dengan ummatNya bahwa Ia akan memberkati ummatNya apabila mereka mau memegang teguh perjanjian dengan Allah tersebut. Namun demikian, jika ummatNya melanggar perjanjian dengan Allah tersebut, maka pembalasan Allah akan berlaku atas mereka (Imamat 26 : 24). Sungguh disayangkan bahwa ummat Israel telah melanggar perjanjian dengan Allah dan juga menentang kekudusan namaNya, sehingga murka Allah turun atas mereka.
Salah satu insiden mengenai pelanggaran perjanjian dengan Allah dan kekudusanNya, adalah peristiwa penyembahan berhala Baal-Peor. Allah telah melindungi ummat Israel, sehingga seorang peramal bayaran yang bernama Bileam telah gagal untuk mengutuki ummat Israel. Tetapi karena Bileam adalah seorang yang tamak akan uang, lalu ia mengajari raja Balak “… untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.” (Wahyu 2 : 14). Maka perempuan Moab telah merayu laki-laki Israel untuk berhubungan seksual dengan mereka dan menyembah dewa mereka, Baal- Peor (kemungkinan disebutkan demikian oleh karena Gunung Peor berada di lokasi pemujaan tersebut dan diperkirakan dewa Baal tersebut berdiam di gunung tersebut). Allah menjadi sangat murka terhadap ummat Israel karena mereka telah melacurkan diri dengan menyembah dewa asing dan dengan demikian telah melanggar perjanjian dan hukum-hukum Allah. Oleh karenanya, maka Allah membunuh 24.000 orang Israel dengan malapetaka, sebelum kemudian Pinehas, anak dari imam besar, membunuh seorang laki-laki Israel dan seorang perempuan Moab yang tanpa malu-malu memamerkan hubungan mereka di hadapan seluruh ummat Israel, dan hendak memasuki kemah untuk berhubungan seksual. Penghakiman (penentuan apakah seseorang telah berbuat benar ataupun salah, dan penghukuman yang sepadan) dimulai dari rumah tangga Allah, yaitu ummatNya dari segala masa yang mengikat perjanjian dengan Allah. Jika kita adalah seorang Kristen, kita memiliki hubungan perjanjian berdasarkan Perjanjian Baru, yaitu perjanjian dengan Allah melalui Yesus Kristus, dan kita pun tunduk kepada penghakiman Kristus (tetapi bukan penghukuman) serta harus menerima disiplin dari TUHAN. Oleh sebab itu, kita harus hidup takut akan TUHAN dan berjalan di dalam kepatuhan kepadaNya, sehingga hidup kita dapat diberkati.
Orang Israel telah melakukan kesalahan, dan demikian juga dengan orang Moab (yang juga disebut orang Midian). Apa yang akan dilakukan Allah atas kejahatan mereka? Dalam pembalasanNya, Allah memerintahkan Musa untuk membawa 12.000 pasukan untuk menghancurkan orang Midian. Allah adalah Allah yang pencemburu atas dosa yang dilakukan ummat Israel, dan Allah menuntut balas kepada orang-orang yang mencoba membahayakan jiwa ummatNya (Nahum 1 : 2). Ini adalah perang suci; orang Israel seharusnya membinasakan seluruh musuhnya, karena mereka membangkitkan murka Allah atas ummatNya dan menyebabkan ummatNya berdosa (Bil. 25 : 1-11). Namun demikian, pasukan Israel membunuh laki-laki Midian, tetapi membiarkan para perempuan dan anak-anak tetap hidup, serta mengambil semua barang jarahan mereka, dan bahkan membiarkan wanita-wanita Midian menggoda laki-laki Israel untuk berbuat dosa. Ketika mengetahui tentang ketidak-patuhan ummat Israel, maka Musa memerintahkan para pasukan Israel untuk membunuh anak laki-laki Midian dan semua perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki . Pada jaman sekarang mungkin kita akan menganggap bahwa hal tersebut terlalu keras dan kejam, namun kemudian Musa memberi perintah-perintah berikut ini yang membantu kita untuk mengerti tentang arti kebenaran dan keadilan Allah dalam melakukan pembalasanNya.
“(7:1) Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (7:2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka; (7:3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (7:4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (Ul. 7 : 1 – 4 ).
Oleh karena generasi berikutnya dari ummat Israel menolak untuk melakukan perintah tersebut di atas, maka dosa mereka tersebut menyebabkan keterpurukan kondisi mereka dan akhirnya mereka diusir dari Tanah Perjanjian. Hal lebih lanjut berkenaan dengan pembalasan Allah atas dosa Israel, dapat kita temui di dalam Renungan Harian tanggal 16 Maret.
Apakah kita harus membalas dendam kepada para musuh kita? Tidak. Allah tidak bermaksud memerintahkan kita untuk melakukan hal tersebut pada masa kini. Tanah Perjanjian milik Israel telah berhasil ditaklukkan dan diduduki. Kita bukanlah orang Yahudi yang melakukan perang suci untuk memperoleh tanah perjanjian. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan ummat Kristiani untuk :
“(12:17) Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! (12:18) Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (12:19) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (12:20) Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. (12:21) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12 : 17 – 21).
Apa yang harus kita lakukan jika seseorang melakukan hal yang jahat kepada kita? JIka kejahatan tersebut dilakukan oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, dan terdapat kasus hukum yang memerlukan perlindungan hukum, maka tidak ada ayat Firman Tuhan yang melarang kita untuk memperoleh keadilan (Rasul Paulus di dalam surat I Korintus 6 : 1 -11 menasihati kita untuk tidak menuntut saudara seiman kita ke pengadilan). Allah telah menetapkan para pemimpin dan apparat pemerintah untuk menghukum para pelaku kejahatan (Roma 13 : 1 – 4). Namun demikian apabila tidak terdapat perlindungan / bantuan hukum, maka kita perlu menyerahkan hak pembalasan kepada Allah. Tetapi sebagai orang Kristen, kita harus memusnahkan / mematikan setiap bentuk kejahatan yang dapat timbul dalam hidup kita, dan hidup kudus di hadapan Allah kita. Membiarkan timbulnya pengaruh jahat masuk kedalam hidup kita, merupakan peluang bagi timbulnya bencana. Apakah kita mengakui segala dosa kita di hadapan TUHAN, tetapi membiarkan bacaan-bacaan dan tontonan pornografi bertebaran di sekitar kita? Apakah kita membentengi diri kita terhadap serangan situs-situs pornografi di computer kita? Apakah kita sungguh –sungguh menjauhkan diri dari segala tindakan yang terkesan menggoda secara fisik terhadap para lawan jenis di tempat kerja, gereja ataupun organisasi lainnya? I Kor. 6 : 18 berkata : “Jauhkanlah dirimu dari percabulan ! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” Agar dapat hidup kudus, kita harus memusnahkan / mematikan segala pengaruh jahat yang masuk ke dalam hidup kita.
Suatu peringatan : orang yang menolak percaya TUHAN dan mereka yang terus memberontak terhadap TUHAN, patut takut kepada murka Allah yang pasti akan menimpa.
“(10:29) Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah , yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? (10:30) Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan ” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya. ” (10:31) Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup. (Ibrani 10 : 29-31).
Upah
Para prajurit pasukan Israel diwajibkan untuk membagi jarahan perang sebesar 50 / 50 dengan jemaat Israel, dan sebagai bentuk ucapan syukur atas kemenangan yang mereka peroleh, para prajurit tersebut diwajibkan untuk memberikan persembahan kepada TUHAN sebanyak 1/500 dari jumlah yang mereka ambil sebagai jarahan perang. Oleh karena jumlah tentara Israel jauh lebih sedikit dibandingkan dengan total ummat Israel lainnya, maka para prajurit Israel tersebut telah mendapatkan upah yang cukup baik. Seberapa baikkah kompensasi yang kita berikan bagi para tentara yang berjuang bagi bangsa kita?
Berdasarkan surat Efesus 6 : 10 – 18, kita ummat Kristiani adalah tentara-tentara yang sedang berjuang dalam peperangan rohani. Adakah kompensasi atau upah yang diberikan bagi kita? Saat ini kita boleh bersukacita atas jiwa-jiwa yang telah kita layani agar dapat diselamatkan, dan merekapun bersukacita atas kesetiaan kita melayani TUHAN. Allah juga memberkati orang-orang yang setia kepadaNya. “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibr. 6 : 10). Yesus berfirman kepada jemaat di Smirna yang menderita (dan dapat diaplikasikan bagi kita yang sedang mengalami peperangan rohani) : “…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2 : 10b).
Allah akan memberikan upah bagi kita yang setia melayaniNya.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Pembalasan Allah didasarkan atas sifatNya yang penuh kasih setia, kudus , adil dan benar ;
- Penghakiman (penentuan tentang benar/ tidaknya seseorang dan pendisiplinan dari TUHAN, tetapi bukanlah penghukuman), dimulai dari rumah tangga Allah, setiap ummatNya di segala masa yang memiliki hubungan perjanjian dengan Allah. Jika kita adalah seorang Kristen, kita memiliki hubungan perjanjian dengan Allah yang didasarkan pada kitab Perjanjian Baru, yaitu perjanjian dengan Allah melalui Yesus Kristus, dan kita harus menjalani disiplin TUHAN. Oleh karenanya, kita harus hidup takut akan TUHAN dan berjalan di dalam kepatuhan kepadaNya, sehingga kita akan diberkatiNya ;
- Allah akan membalaskan setiap orang yang berbuat jahat kepada ummatNya ;
- Kita tidak boleh membalas dendam kepada para musuh kita. Allah tidak menghendaki kita untuk melakukan hal tersebut. ;
- Sebagai orang Kristen, kita harus memusnahkan / mematikan setiap bentuk kejahatan yang mungkin timbul dari dalam diri kita, dan kita harus hidup kudus di hadapan Allah kita ;
- Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, serta orang-orang yang tetap memberontak terhadap TUHAN, patut untuk takut akan murka Allah ;
- Allah akan memberi upah atas kesetiaan kita melayaniNya.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dalam kitab Bil. 31 : 12 – 20 , sekali lagi kita diingatkan akan bahaya segala pencemaran rohani dan jasmani dari lingkungan orang-orang yang tidak mengenal Allah dan hidupnya tidak takut akan TUHAN, sehingga Allah akan bertindak tegas untuk membawa kita keluar dari pengaruh yang jahat tersebut yang dapat membuat kita jatuh, sama seperti yang terjadi atas ummat Israel. Bagaimana cara terbaik agar, meskipun kita masih hidup di dalam dunia ini, tetapi dapat menghindar dari segala pengaruh jahat yang sedang mencari jalan terbaik untuk mengkontaminasi hidup kita? Bagaimana dengan pengaruh gaya hidup yang tercemar secara rohani, seperti kemabukan, pesta pora, seks bebas atau pornografi, dan segala jenis pengaruh jahat lainnya; Tindakan apa saja yang perlu kita lakukan agar terhindar dari segala hal yang jahat tersebut?
- Dari kitab Bilangan 31 : 21 – 24, kita belajar tentang proses penyucian yang dikehendaki Allah bagi ummatNya atas jarahan perang. Di dalam kitab Perjanjian Baru, penyucian dilakukan TUHAN bagi kita melalui baptisan air dan juga melalui firmanNya. “untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,” (Ef. 5 : 25). Seberapa jauhkah kita telah disucikan melalui ketaatan kepada firmanNya? Kendala-kendala apa saja yang kita temui untuk dapat hidup lebih kudus sesuai firmanNya?
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Ulangan 32 : 3 – 4 “(32:3) Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita, (32:4) Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”
