Bacaan Alkitab : Bilangan 19 – 21; Mazmur 90
(Kurun waktu : diperkirakan 1.444 – 1.406 S.M.)
“Air Pentahiran, Pengujian dan Kemenangan”
download versi word file : Renungan Harian – Tgl 6 dan 7 Maret
Air adalah sumber daya alam yang sangat berharga. Kita menggunakannya untuk minum, membersihkan, sarana transportasi, serta berbagai hal-hal utama lainnya. Air sangat berharga dan berguna bagi ummat Israel dalam cara-cara yang khusus, dan apa yang mereka pelajari berkenaan dengan air ini juga dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita.
Air Pentahiran
Ketetapan hukum mengenai air pentahiran (Bilangan 19) tampaknya merupakan aturan tambahan (appendix) terhadap hukum yang terdapat di kitab Imamat berkenaan dengan Pentahiran. Sepertinya, alasan yang mendorong dibuatnya aturan tambahan tersebut adalah karena ummat Israel baru saja mendapat hukuman oleh sebab mereka tidak mau masuk ke tanah Kanaan untuk berperang demi mendapatkan warisan yang telah dijanjikan Allah bagi mereka. Karena mereka telah memberontak terhadap perintah Allah, maka Allah berfirman :
“(14:29) Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. (14:30) Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun! (14:31) Tentang anak-anakmu yang telah kamu katakan: Mereka akan menjadi tawanan, merekalah yang akan Kubawa masuk, supaya mereka mengenal negeri yang telah kamu hinakan itu. (14:32) Tetapi mengenai kamu, bangkai-bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini, (14:33) dan anak-anakmu akan mengembara sebagai penggembala di padang gurun empat puluh tahun lamanya dan akan menanggung akibat ketidaksetiaan, sampai bangkai-bangkaimu habis di padang gurun. (14:34)Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: (14:35) Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.” (Bilangan 14 : 29-35).
Oleh karena ummat Israel satu –persatu akan mati di padang gurun, maka menjadi hal yang tak terelakkan bahwa orang akan harus menyentuh tubuh orang yang mati tersebut dan dengan demikian menjadi najis secara hukum (jika ada dua juta orang yang berumur dua puluh tahun atau lebih, kira-kira setiap hari diperkirakan ada 139 orang yang mati di padang gurun). Kemudian juga saat mereka harus bertempur melawan musuh, mereka juga akan tercemar oleh darah tentara yang tewas. Oleh sebab itu diperlukan suatu hukum atau prosedur untuk pentahiran; dalam keadaan najis, ummat Israel tidak dapat memasuki Tabernakel di mana hadirat TUHAN bersemayam, karena mereka akan binasa jika melanggar kekudusan Allah. Pada masa kini, kita tidak memiliki hukum ataupun praktik keagamaan yang berkenaan dengan pentahiran tersebut, meskipun kita pun melakukan cara penanganan yang khusus terhadap jenazah, sehingga tidak terjangkit penyakit yang berbahaya (mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa seseorang yang bersentuhan dengan mayat kemudian diisolasikan dari jemaat lainnya dan diwajibkan untuk mentahirkan diri dengan abu bakaran dari lembu muda (semacam sabun) dan air besih). Yesus telah mentahirkan kita dari segala kenajisan rohani, ketika kita mengakui dosa-dosa kita kepadaNya (I Yohanes 1 : 7).
Air Pengujian
Air pengujian melambangkan empat puluh tahun lamanya masa penderitaan yang harus dialami ummat Israel di padang gurun oleh karena dosa-dosa mereka. Mereka harus mengembara di padang gurun yang bercuaca ekstrim sangat terik pada siang hari dan malam hari yang sangat dingin. Mereka harus menghadapi bahaya adanya binatang buas di padang gurun. Mereka mengalami kelaparan dan kehausan. Kemudian penderitaan mereka bertambah lagi dengan tekanan emosional, yaitu harus menguburkan orang-orang yang mati di padang gurun. Mereka mati oleh karena sikap pemberontakan mereka yang mencobai kesabaran TUHAN sebanyak sepuluh kali (Bilangan 14 : 22 – 23). Mereka menolak untuk percaya kepada Allah meskipun Ia telah membebaskan mereka dari Mesir, melindungi mereka di padang gurun, memberi mereka makanan dan air untuk minum, dan juga kemenangan atas musuh-musuh mereka, yaitu orang Ammon dan Moab. Tetapi meskipun sudah merasakan pertolongan TUHAN, mereka menolak untuk menaruh iman percaya kepada TUHAN untuk memasuki Tanah Perjanjian, karena ada manusia-manusia raksasa yang berdiam disana.
Tidak banyak berubah dalam waktu empat puluh tahun masa pengembaraan mereka di padang gurun, ummat Israel masih tetap menggerutu dan mengeluh tentang kekurangan makanan dan air. Musa dan Harun menjadi muak mendengar kecaman para penggerutu tersebut. Ketika Allah memerintahkan Musa untuk berkata kepada “gunung batu tersebut” (tampaknya ini adalah gunung batu yang menyimpan sumber mata air yang sangat berlimpah di Masa dan Meriba), lalu Musa mencetuskan kemarahannya terhadap ummat Israel. Musa berkata, “…”Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20 : 10). Dan kemudian dilandasi rasa kecewa dan marah, bukannya berbicara kepada gunung batu tersebut, tetapi Musa malahan memukulkan tongkatnya sebanyak dua kali ke atas gunung batu tersebut. Setelah itu, “…Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” (Bil. 20 : 12)
Apa yang dilakukan Musa memang tampaknya merupakan hal yang sepele, tetapi Musa dan Harun adalah pemimpin rohani bagi ummat Israel. “…Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk. 12 : 48b). Dengan memukul gunung batu tersebut dan bukannya menjalankan perintah Allah untuk berkata kepada gunung batu tersebut, maka Musa dan Harun telah mengambil kemuliaan bagi diri mereka sendiri! Mereka perlu memberi kemuliaan hanya bagi Allah saja di depan mata seluruh ummat Israel. Para pemimpin harus melakukan tugasnya dengan rajin (Roma 12 : 8; 2 Petrus 1 : 5), dan khususnya para pemimpin rohani, perlu untuk melakukan seluruh kehendak Allah dengan cara seperti yang dikehendakiNya untuk dilakukan. Apakah kita telah memberikan seluruh kemuliaan hanya bagi Allah saja, atau sebaliknya, kita mengarahkan perhatian kepada diri kita, atau mencari puji-pujian dan penghargaan dari manusia? Setiap pemimpin rohani dan para orang tua Kristiani perlu sungguh-sungguh memperhatikan untuk memberi segala kemuliaan hanya bagi Allah, meskipun pada saat di mana kita merasa sudah letih ataupun bosan dengan keadaan sekitar. Allah menghormati orang-orang yang sungguh-sungguh menghormatiNya (I Samuel 2 : 30).
Setelah selama empat puluh tahun ummat Israel harus menggembalakan ternak domba dan sapi mereka di padang gurun, kemudian mereka kembali ke Kadesh. “Kemudian sampailah orang Israel, yakni segenap umat itu, ke padang gurun Zin, dalam bulan pertama, lalu tinggallah bangsa itu di Kadesh. Matilah Miryam di situ dan dikuburkan di situ. (Bil. 20 : 1).
Dari Kadesh, ummat Israel hendak pergi melewati daerah orang Edom melalui Jalan Raya Para Raja (jalan raya yang paling mudah ditempuh dan paling singkat untuk langsung berjalan dari selatan Edom ke arah utara menuju Damaskus (The Bible Knowledge Commentary of the Old Testament, by Walvoord and Zuck, copyright 1985, halaman 239), tetapi Edom menolak mentah-mentah permohonan Israel tersebut. Mereka bahkan menyiapkan tentara untuk menghadang perjalanan ummat Israel. Karena merasa terancam dan terhalang, ummat Israel berbalik arah dan kembali melalui padang gurun disekeliling Edom.
Empat bulan kemudian, Harun mati di Gunung Hor (Bil. 20 : 26; 33: 38) oleh karena kegagalannya dalam ujian iman mengeluarkan air dari gunung batu bagi Israel. Lalu anak Harun yang bernama Eleazar menjadi imam besar. Setelah periode perkabungan selama 30 hari untuk meratapi kematian Harun, mereka melanjutkan perjalanan di padang gurun menuju tanah Kanaan. Tentu saja perjalanan di padang gurun bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan. Hal tersebut berarti bahwa mereka harus melewati cuaca yang sangat terik di siang hari dan sangat dingin pada malam hari, kehausan, terkena angin kencang, debu, maupun rawan terhadap serangan hewan-hewan liar di padang gurun, termasuk serangan ular berbisa.
Ummat Israel kembali bersungut-sungut dan mengeluh. Maka Allah mengirimkan ular berbisa – ular tedung /ular beludak yang satu kali gigitannya dapat mematikan enam orang sekaligus dengan cepat – yang memagut ummat Isarel sehingga banyak yang mati. Dengan segera ummat Israel sadar bahwa mereka telah berdosa terhadap Allah dengan berkeluh kesah menentang TUHAN dan melawan Musa, sehingga kemudian mereka memohon agar Musa mau memohon pengampunan TUHAN untuk keselamatan mereka. Lalu Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular dari tembaga, dan semua orang yang memandang kepada ular tembaga tersebut akan tetap hidup walaupun telah dipagut ular. Yesus berfirman, “(3:14) Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, (3:15) supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3 : 14-15). Tubuh Yesus telah dipakukan pada kayu salib saat penyaliban, dan semua orang yang memandang kepadaNya – menaruh harap kepadaNya – dengan iman untuk mendapatkan keselamatan dari dosa-dosa mereka, akan menerima pengampunan dosa dan kehidupan kekal di surga.
Kemungkinan saat berada di akhir masa empat puluh tahun pengembaraan ummat Israel di padang gurun, kemudian Musa menulis kitab Mazmur 90. Musa dan para tua-tua Israel yang masih hidup, merasa cukup letih dan mungkin juga ingin menebus waktu kesia-siaan yang telah mereka lakukan di masa lampau, sehingga mereka dapat menjalani tahun-tahun mendatang yang penuh berkat TUHAN. Untuk melaksanakan hal tersebut, mereka harus melakukan hal-hal yang juga perlu kita lakukan – menyadari segala kesalahan, bertobat dan menanggung setiap ujian. Maka Allah yang melihat segala sesuatunya dan penuh belas kasihan, akan mengampuni ummatNya. Hal ini tidak berarti bahwa ujian selanjutnya akan menjadi lebih mudah, tetapi bersama dengan Allah di pihak mereka, maka mereka akan dapat menanggung segala beban. Bagaimana hal nya dengan kita? Apakah saat ini kita tengah didisiplin oleh TUHAN? Apakah kita mau menjalani proses disiplin tersebut dengan hati yang bertobat? Allah mengasihi dan mau mengampuni mereka yang mau merendahkan diri dan bertobat; selanjutnya mereka akan dipimpin untuk menuju hidup yang berkelimpahan di dalam TUHAN.
Air Kemenangan
Setelah terjadinya insiden pagutan ular berbisa, tampaknya ummat Israel mulai belajar hidup mengandalkan iman (setidaknya untuk sementara waktu). Tidak tercatat lagi sungut-sungut ataupun keluhan selama perjalanan mereka sepanjang 100 mil (sekitar 160 kilometer) menuju ke Tanah Perjanjian. Kemudian, dengan tanpa sungut-sungut ummat Israel, Allah memimpin ummat Israel menuju sumur mata air di Beer (suatu kota dekat perbatasan Moab). Ummat Israel bersukacita dengan lagu pujian oleh karena pemeliharaan TUHAN bagi hidup mereka. Tidak lama setelah itu, Allah mulai memberikan kemenangan melawan musuh-musuh mereka. Sungguh menjadi kekuatan yang menyegarkan rohani mereka, ketika mengetahui bahwa sekali lagi Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan dan berkat bagi hidup mereka. Lalu mereka mengalahkan orang Amori dan Basan, serta menjadi ancaman bagi semua raja-raja di daerah-daerah yang dilalui ummat Israel. Jika kita mau belajar percaya kepada Allah, dan tidak sebaliknya, bersungut-sungut dan mengeluh, Allah juga akan memulihkan roh kita dan memberikan kemenangan bagi kita.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Yesus menyembuhkan kita dari segala jenis kenajisan rohani, ketika kita mau mengakui segala dosa kita kepadaNya (I Yoh. 1 ; 9) ;
- Allah menghargai semua orang yang menghormatiNya ;
- Tubuh Yesus terpaku, terpancang di atas kayu salib, dan semua orang yang memandang kepadaNya dengan iman untuk memperoleh keselamatan atas dosa-dosanya, akan menerima pengampunan dosa dan kehidupan yang kekal ;
- Allah akan menolong orang-orang yang menanggapi pendisiplinan dari TUHAN dengan sikap pertobatan dan perubahan hati. Mereka akan memperoleh hidup yang diberkati dan berkelimpahan di dalam TUHAN ;
- Para pemimpin harus melakukan pimpinan dengan rajin, dan hal ini berarti memberikan perhatian bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun ( dan juga tetap melakukannya meskipun merasa letih ataupun marah). Hal tersebut juga berarti melakukan segala sesuatu yang dikehendaki Allah dengan cara seperti yang diinginkan Allah untuk dilakukan ;
- Jika kita mau belajar percaya kepada Allah, dan tidak sebaliknya, bersikap bersungut-sungut dan mengeluh, Allah akan memperbaharui roh kita dan memberi kemenangan bagi kita.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Pelajaran yang kita dapatkan tentang hukuman TUHAN atas ketidakpatuhan dan ketidakpercayaan Musa, serta dosanya yang tidak menghormati kekudusan namaTUHAN di depan mata orang Israel, maka Musa tidak diperkenankan TUHAN memasuki Tanah Perjanjian (Bil. 20 : 12). Tidak ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan bagi Musa selain menerima kenyataan ini. Tetapi seberat apakah dosa yang telah dilakukannya? Yang pertama, di dalam ayat 10b, Musa menggunakan kata “kami”, dan bukannya mengatakan saja bahwa semuanya atas perintah TUHAN. Ini seolah-olah ia hendak mengambil ‘nama/ jasa’ atas mujizat air yang keluar dari gunung batu tersebut. Ini adalah suatu bentuk kesombongan rohani. Pernahkah kita, di dalam pelayanan atau kehidupan kita, tanpa disadari telah berkata atau berpikir bahwa hal-hal baik dan keberhasilan tersebut sebagiannya adalah atas usaha dan kerja keras kita, dan bukannya semuanya oleh karena hikmat dan kekuatan TUHAN, dan bahwa kita hanyalah hamba-hamba yang dipakaiNya?
Hal yang ke dua, Musa tidak patuh kepada perintah TUHAN untuk berkata saja kepada gunung batu tersebut agar mengeluarkan air, tetapi ia memukulkan tongkatnya bahkan sampai dua kali, yang menandakan perasaan frustrasi dan marah; hal tersebut seolah menyamakan pribadi TUHAN sama seperti sifat manusia yang tidak sempurna, atau sifat-sifat yang mudah marah dan tersinggung. dan hal ini membuat kekudusan nama TUHAN tercemar. Pernahkah kita, di dalam pelayanan ataupun pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan bagi TUHAN, tidak membuat orang makin menghormati kekudusan nama TUHAN, tetapi malahan menjadi batu sandungan bagi mereka? Bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai pemimpin ataupun pelayan-pelayan TUHAN melalui setiap perkataan dan perbuatan kita?
Musa harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyedihkan, bahwa iapun tidak diperkenankan TUHAN untuk masuk ke tanah Kanaan, padahal kita tahu bahwa ia adalah orang yang sangat dekat dengan TUHAN dan sangat dipercaya TUHAN. Kita belajar sebagai pemimpin-pemimpin dan pelayan TUHAN, ada standard yang lebih ketat yang diberlakukan Allah bagi hamba-hambaNya, seperti yang tertulis juga di dalam surat Yakobus 3 : 1. Belajar dari kenyataan yang sangat menyedihkan tersebut: seberapa jauhkah kita, yang melayani TUHAN, telah menerapkan standard-standard rohani yang lebih ketat daripada sekedar ummat yang percaya kepada TUHAN, baik dalam hal kekudusan, kepatuhan kepada perintahNya, kerajinan dan hal-hal utama yang harus dimiliki seorang prajurit TUHAN?
Ayat Hafalan Hari Ini :
Ulangan 20 : 4 “Sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu
