{"id":994,"date":"2017-02-26T07:00:58","date_gmt":"2017-02-26T00:00:58","guid":{"rendered":"http:\/\/gbik.info\/?p=994"},"modified":"2017-02-26T07:00:58","modified_gmt":"2017-02-26T00:00:58","slug":"renungan-harian-26-februari-menjaga-standard-kekudusan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/2017\/02\/26\/renungan-harian-26-februari-menjaga-standard-kekudusan-allah\/","title":{"rendered":"Renungan Harian 26 Februari &#8211; Menjaga Standard Kekudusan Allah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\">\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Bacaan Alkitab : Bilangan 5 &#8211; 6<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>\u00a0(Kurun waktu : diperkirakan 1.446\u00a0 \u2013 1.444 S.M.) <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>\u00a0\u00a0\u201cMenjaga Standard Kekudusan Allah\u201d<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>(Catatan : Kemarin kita telah menyelesaikan pembacaan kitab Imamat. Hari ini kita memulai pembacaan Alkitab dari kitab Bilangan 5 \u2013 6 karena 10 pasal pertama dari kitab Bilangan tidak berdasar perkiraan urutan kronologis dari peristiwa terjadinya.\u00a0 Kitab Bilangan 5 \u2013 6 tampaknya menjadi keterangan tambahan ke dua terhadap kitab Imamat, dan sebagai tambahan peraturan-peraturan yang terdapat di dalam kitab Imamat, sehingga kita akan mempelajari kedua pasal ini terlebih dahulu)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">download versi word file : <a href=\"http:\/\/gbik.info\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Renungan-Harian-Tgl-26-Februari-2017.doc\">Renungan Harian &#8211; Tgl 26 Februari 2017<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Urutan Kronologis Kitab Bilangan 1 \u2013 10<\/strong><\/p>\n<table class=\" aligncenter\" width=\"461\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"236\"><strong>Tanggal dan Ayat Firman Tuhan<\/strong><\/td>\n<td width=\"225\"><strong>Pokok\u00a0 Bahasan<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"236\">26 Februari : Bilangan 5 \u2013 6<\/td>\n<td width=\"225\">Appendix 2 (berhubungan dengan peraturan-peraturan yang terdapat dalam kitab Imamat): Penyucian dari penyakit; Mengatasi Kesalahan &amp; Dosa; Sumpah Kenaziran; Ucapan Berkat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"236\">27 Februari : Bilangan 3 \u2013 4<\/td>\n<td width=\"225\">Sensus yang Pertama dan Dedikasi orang Lewi<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"236\">28 Februari : Bilangan 7 : 1\u2013 8 : 4<\/td>\n<td width=\"225\">Persembahan di atas mezbah; Kereta alat pengangkutan perabot Tabernakel<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"236\">1 Maret : Bilangan 8 : 5 \u2013 9 : 14<\/td>\n<td width=\"225\">Paskah Yang Ke Dua<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"236\">2 Maret : Bilangan 1 \u2013 2,\u00a0 9:15 \u2013 10 : 36<\/td>\n<td width=\"225\">Sensus Ke 2 untuk Penghitungan Militer; pengaturan perkemahan; Bergerak maju<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Penjelasan :<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: center\">26 Februari : Bilangan 5 \u2013 6. Ada hal-hal yang berkenaan dengan kekudusan yang perlu diatur dalam peraturan-peraturan. Ini merupakan keterangan tambahan bagi kitab Imamat.<\/li>\n<li style=\"text-align: center\">27 Februari : Bilangan 3 \u2013 4. Suku Lewi dipilih untuk melayani di Tabernakel ketika Musa berada di Gunung Sinai untuk menerima perintah-perintah Allah (hal tersebut dinyatakan di dalam kitab Bilangan 3 : 1 tetapi tidak tercatat di dalam kitab Keluaran). Orang-orang Lewi dipilih untuk mencatat jumlah persembahan bagi pembangunan Tabernakel (Keluaran 38 : 21), sehingga mungkin saja, walaupun tidak tercatat di dalam kitab Keluaran, bahwa kaum Lewi tersebut telah dipilih dan ditahbiskan untuk membantu Harun dan anak-anaknya).<\/li>\n<li style=\"text-align: center\">28 Februari : Bilangan 7: 1 \u2013 8:4. Tabernakel didirikan pada hari yang pertama, bulan yang pertama dari tahun yang ke dua sejak ummat Israel dibebaskan dari Mesir (Kel. 40:17).\u00a0 Dalam periode 12 hari berikutnya, persembahan diberikan oleh 12 suku Israel dan kereta diberikan untuk dipergunakan orang Lewi.<\/li>\n<li style=\"text-align: center\">1 Maret : Bilangan 9 : 1 \u2013 3. Paskah yang ke dua dilakukan pada bulan yang pertama, hari yang ke 14 dari tahun yang ke dua.<\/li>\n<li style=\"text-align: center\">2 Maret : Sensus yang ke dua untuk penyusunan Militer dilakukan pada hari pertama bulan yang ke dua pada tahun yang ke dua (Bilangan 1 : 1). Sesudah itu, 12 suku Israel diatur di sekitar perkemahan suku Lewi dan Tabernakel.\u00a0 Kemudian pada hari yang\u00a0 ke 20 pada bulan yang ke dua dan tahun yang ke dua, ummat Israel berangkat dari Gunung Sinai (Bilangan 10 : 11).<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Menjaga Standard Kekudusan Allah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Anggota dari hampir setiap lembaga ataupun organisasi harus memelihara standard perilaku tertentu. Hal ini berlaku juga bagi tiap keluarga, gereja, tempat-tempat usaha, militer, dan organisasi-organisasi lainnya.\u00a0 Dalam kasus ini, hal-hal yang dianggap benar dan berlaku di dalam masyarakat, juga diberlakukan oleh Allah; Allah menetapkan\u00a0 standard perilaku. Apakah standard perilaku yang ditetapkan Allah dan bagaimana cara kita mematuhinya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Standard perilaku yang ditetapkan Allah bagi jemaat Israel, baik secara keseluruhan maupun bagi tiap individu, adalah\u00a0 ( dan selalu demikian ) tentang kekudusan.\u00a0 Imamat 20 : 7 berkata: \u201cMaka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.\u201d\u00a0 Ummat Allah di segala masa di dalam sejarah perlu hidup kudus sebab Allah adalah kudus. Kita tidak dapat menghampiri Allah tanpa kekudusan. Konsep kekudusan dalam arti moral dan fisik berarti adanya kemurnian dan kesucian yang mutlak.\u00a0 Istilah tersebut mengandung arti adanya pemisahan.\u00a0 Manusia dan benda-benda tertentu harus dipisahkan (dikhususkan\u00a0 didalam kesucian) bagi Allah, dijauhkan dari segala jenis kecemaran, penyembahan berhala, pengajaran sesat dan segala jenis hal-hal yang dapat menajiskan, tidak murni, haram (tentang benda-benda), ataupun untuk penggunaan secara umum saja \u2013 bukan sesuatu yang dikhususkan.\u00a0 Oleh karena mustahil untuk dapat menjadi sungguh-sungguh murni dan bersih, maka korban persembahan berupa hewan dihaturkan sebagai pengganti dosa manusia, untuk mendapatkan pengampunan (dan berusaha menyenangkan hati Allah) atas segala dosa yang dilakukan manusia.\u00a0 Tetapi kemudian, suatu persembahan yang lebih baik, sekali untuk selama-lamanya, telah dilakukan untuk menjadikan kita kudus : melalui korban Yesus Kristus Anak Allah (Ibrani 10 : 10,\u00a0 14).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tetapi kemudian terjadi kecemaran di perkemahan ummat Israel.\u00a0 Apa yang harus dilakukan ummat Israel atas orang-orang yang menderita penyakit, mengalami pengeluaran cairan tubuh yang tidak normal, ataupun bagi mereka yang telah menyentuh mayat? \u00a0\u00a0Karena Allah menghendaki kemurnian dan kekudusan, maka orang-orang tersebut harus dipisahkan dari perkemahan di mana hadirat Allah hadir (Bilangan 5 : 2-3).\u00a0 Tindakan ini untuk melindungi sebagian besar ummat Israel lainnya.\u00a0 Apabila kemudian mereka telah dinyatakan bebas dari penyakit-penyakit tersebut, maka mereka dapt diterima kembali ke dalam jemaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Peraturan lain yang perlu mendapat penjelasan lebih lanjut adalah tentang persembahan penghapus dosa dan korban penebus salah.\u00a0 Prosedur normal yang diberlakukan atas orang yang telah berbuat salah adalah agar orang tersebut mengakui kesalahannya kepada orang yang telah dirugikan, lalu mempersembahkan korban persembahan yang berkenan kepada Allah atas dosa-dosanya tersebut, serta jika memungkinkan, harus membayar ganti rugi sepenuhnya, dengan menambahkan 20% sebagai denda ganti rugi. Lalu apa yang harus dilakukan ummat Israel berkenaan dengan korban penebus salah, jika tidak ada pihak yang kepadanya dapat dimintakan maaf dan melakukan ganti rugi?\u00a0 Kadang-kadang beberapa dari kitapun mengalami hal serupa: kita merasa bersalah tentang beberapa kesalahan yang telah kita lakukan di masa lampau, tetapi orang yang seharusnya dimintakan maaf tersebut telah mati; lalu bagaimana cara melakukan ganti rugi? Allah memberikan perintah-perintah berikut ini kepada orang Israel :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201c(5:8) Tetapi apabila orang itu tidak ada kaumnya, kepada siapa dapat dibayar tebusan salah itu, maka tebusan salah yang harus dibayar itu menjadi kepunyaan TUHAN, dan adalah bagian imam, belum terhitung domba jantan pendamaian yang dipakai untuk mengadakan pendamaian bagi orang itu. (5:9)\u00a0\u00a0 Dari persembahan-persembahan kudus yang disampaikan orang Israel kepada imam, persembahan khususnya adalah bagian imam. (5:10) Sedang persembahan-persembahan kudus yang dibawa oleh seseorang adalah bagian orang itu sendiri; hanya apa yang diserahkannya kepada seorang imam adalah bagian imam itu.&#8221; (Bil. 5 : 8-10).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hal yang pertama, ummat Israel harus mencari tahu jika masih ada sanak saudara terdekat dengan korban penderita tersebut, untuk membayar ganti rugi atas setiap pelanggaran ataupun kerugian yang terjadi. Tetapi jika tidak ditemukan sanak saudara terdekat untuk melakukan ganti rugi, maka mereka dapat menyerahkan ganti rugi tersebut kepada TUHAN melalui para imam.\u00a0 Didalam majelis jemaat gereja-gereja protestan tidak terdapat jabatan imam resmi, tetapi mungkin secara prinsip dapat dilakukan persembahan pembayaran ganti rugi bagi TUHAN\u00a0 melalui gereja jika tidak ada anggota keluarga terdekat yang hadir. Korban persembahan dan pembayaran ganti rugi diwajibkan bagi orang Israel, bagi mereka yang telah berdosa dan melakukan kesalahan karena kecemaran mereka. Allah juga menghendaki agar kita tetap menjaga standard hidup kudus.\u00a0 Imamat 20 : 8 berkata : \u201cDemikianlah kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah TUHAN yang menguduskan kamu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Cara lain untuk memelihara standard hidup kudus yang berasal dari Allah, adalah tentang pernikahan.\u00a0 Sebelumnya, Allah telah memberi Musa dan ummat Israel perintah ini di Gunung Sinai : \u201cJangan berzinah\u201d (Kel. 20 : 14) dan \u201cJangan mengingini\u201d (dengan berbagai jenis aplikasinya ; Kel. 20 : 17).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cBila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.\u201d (Imamat 20 : 10).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Namun kemudian apa yang terjadi jika seorang suami merasa cemburu karena mencurigai istrinya telah melakukan perzinahan, tetapi ia tidak punya bukti tentang hal tersebut? Rangkaian ritual yang dijelaskan di Bilangan 5 : 11-31 dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut dan menyatakan pihak yang bersalah, jika ada.\u00a0 Tentu saja jika ritual tersebut dilakukan, akan membuat sang istri merasa sangat dipermalukan, tetapi tentunya juga dapat menjadi alat pencegah\u00a0 yang ampuh atas setiap kemungkinan perselingkuhan.\u00a0 Allah memberikan cara bagi ummat Israel untuk menentukan kesalahan ataupun tidak bersalahnya seorang istri dalam hal tersebut.\u00a0 Jika ternyata sang istri memang bersalah, ia akan sangat menderita, dan jika tidak, reputasinya pun kemudian akan terpulihkan.\u00a0 Bukti bahwa ternyata sang istri tidak bersalah, juga akan membuat suaminya yang pencemburu tersebut menjadi malu.\u00a0 Meskipun Alkitab berkata bahwa suaminya tidak bersalah jika hendak meminta sang istri untuk mengikuti ritual tersebut, tetapi jika ternyata si istri tidak bersalah, maka suami tersebut akan terlihat sangat bodoh dan bersifat mudah curiga. Tentu saja ritual ini tidak dapat dilihat dengan sepele, dan kebanyakan orang tidak akan menyukai untuk melakukan ritual tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mengapa tidak terdapat pengujian atas seorang pria untuk membuktikan kesetiaannya?\u00a0 Kita tidak dapat memastikan bahwa tidak ada pengujian bagi pria, hanya karena tidak disebutkan di Alkitab.\u00a0 Yang kita ketahui adalah: mengenai kecemburuan tersebut memang diperlukan peraturan yang ditambahkan kepada hukum yang berlaku. Pada masa kinipun kita tidak memiliki peraturan berkenaan dengan hal tersebut; namun demikian, ada suatu prinsip yang dapat dipelajari tentang peraturan tersebut.\u00a0 Para suami dan istri perlu memelihara kesucian\u00a0 di dalam tingkah laku mereka terhadap orang lain yang berbeda jenis kelaminnya.\u00a0 Apakah kita memberi alasan yang baik bagi pasangan kita untuk menjadi kuatir atas kesetiaan kita dengan menghabiskan terlalu banyak waktu pribadi untuk chatting di internet, telepon sellular, ataupun mengadakan pertemuan dengan orang yang berbeda jenisnya?\u00a0 Apakah kita banyak menceritakan hal-hal yang baik tentang orang ke tiga tersebut, tetapi kita malahan mengkritik pasangan kita?\u00a0 Allah hendak memberkati kita, tetapi kita harus menjadi kudus di dalam setiap hal yang kita lakukan (I Petr. 1 : 15-16).\u00a0 Peraturan-peraturan berkenaan dengan kesetiaan pun dimaksudkan agar terdapat pemurnian dan kekudusan sebagaimana dikehendaki Allah sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hal lainnya adalah tentang orang-orang yang ingin menguduskan hidupnya sepenuhnya bagi Allah \u2013 bagaimana mereka melakukan hal tersebut?\u00a0 Kita diperkenalkan dengan perintah yang terdapat di dalam kitab Imamat 27 bagi ummat Israel yang ingin mendedikasikan hidup mereka, tanah mereka, hewan ternak mereka ataupun property milik mereka bagi TUHAN.\u00a0 BIlangan 6 memberikan peraturan berikutnya bagi mereka yang ingin menyerahkan hidup sepenuhnya bagi TUHAN. Pada jaman Musa terdapat para laki-laki dan perempuan yang melakukan sumpah kenaziran untuk beberapa waktu dalam hidup mereka, untuk mendedikasikan hidup mereka sepenuhnya bagi TUHAN. Sepanjang masa kenaziran tersebut mereka harus mengikuti peraturan-peraturan berikut ini :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201c(6:3) maka haruslah ia menjauhkan dirinya dari anggur dan minuman yang memabukkan, jangan meminum cuka anggur atau cuka minuman yang memabukkan dan jangan meminum sesuatu minuman yang dibuat dari buah anggur, dan jangan memakan buah anggur, baik yang segar maupun yang kering. (6:4) Selama waktu kenazirannya janganlah ia makan sesuatu apapun yang berasal dari pohon anggur, dari bijinya sampai kepada pucuk rantingnya. (6:5) Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya; sampai genap waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang. (6:6)\u00a0\u00a0\u00a0 Selama waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, janganlah ia dekat kepada mayat orang.\u201d (Bil. 6 : 3-6)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">JIka mereka melanggar salah satu dari janji nazar tersebut selama masa pengudusan tersebut, maka mereka harus mulai segala sesuatunya dari awal lagi.\u00a0 Pada akhir masa konsekrasi tersebut, mereka harus menghadap ke imam.\u00a0 Imam akan mencukur rambut kepala mereka dan rambut tersebut dipersembahkan di atas mezbah bakaran sebagai bagian dari korban keselamatan, bersama-sama dengan korban bakaran dan korban penghapus dosa (untuk mengingat kembali tentang ini, dapat kembali ke Renungan Harian tanggal 16 dan 17 Februari).\u00a0 Orang-orang yang bernazar tersebut bukanlah para imam;\u00a0 orang-orang Israel yang melakukan nazar tersebut tetap hidup di dalam masyarakat dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat pada umumnya.\u00a0 Mungkin kita bukan orang-orang yang bernazar, tetapi sebagai orang Kristen, oleh kasih karunia Allah, kita wajib \u201c\u2026.mempersembahkan tubuh (kita) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadah (kita) yang sejati..Janganlah (kita) menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi (kita), sehingga (kita) dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12 : 1-2).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Yang terakhir, mengapa kita hendak memelihara standard hidup yang kudus?\u00a0\u00a0 Kita ingin melakukannya sehingga berkat Allah dapat turun atas diri kita. Di dalam kitab Bilangan 6 : 22-27\u00a0 \u201c(6:22)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 TUHAN berfirman kepada Musa: (6:23)\u00a0\u00a0 &#8220;Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: (6:24)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; (6:25)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; (6:26)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (6:27)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Apakah kita ingin diberkati oleh TUHAN? Tentu kita ingin diberkati, maka kita perlu memelihara standard hidup yang kudus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><u>Untuk Direnungkan dan \u00a0Dilakukan<\/u> :<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>Standard Allah adalah kekudusan sehingga Ia ingin agar kitapun menjaga standard hidup yang kudus ;<\/li>\n<li>Para suami dan istri perlu menjaga sikap hidup yang kudus terhadap orang lain yang berlainan jenis ;<\/li>\n<li>Sebagai orang-orang Kristen, dan di dalam kasih karunia Allah, kita wajib \u201c\u2026mempersembahkan tubuh (kita) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadah (kita) yang sejati. Janganlah (kita) menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi (kita), sehingga (kita) dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12 : 1-2).\u201d<\/li>\n<li>Kita perlu memelihara standard hidup yang kudus dari Allah, sehingga berkatNya selalu turun atas hidup kita.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0<u>Pertanyaan Untuk Diskusi :<\/u><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>Meskipun kita bukanlah orang-orang yang bernazar khusus kepada Allah, tetapi oleh kasih karunia Allah, apakah kita telah sungguh-sungguh mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup\u00b8 kudus dan berkenan kepada Allah di tengah-tengah dunia yang semakin sekuler ini? Hambatan apa sajakah yang kita temui untuk menjalankan perintah Firman Tuhan tersebut? Apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa dengan menjalankan hidup yang kudus bagi TUHAN, kita akan makin diberkatiNya? Mohon dapat dibagikan tentang pengalaman Anda berkenaan dengan hal tersebut.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><u>Ayat Hafalan Hari Ini :<\/u><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\">Imamat 20 : 8 \u201cDemikianlah kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah TUHAN yang menguduskan kamu.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan Alkitab : Bilangan 5 &#8211; 6 \u00a0(Kurun waktu : diperkirakan 1.446\u00a0 \u2013 1.444 S.M.) \u00a0\u00a0\u201cMenjaga Standard Kekudusan Allah\u201d \u00a0 (Catatan : Kemarin kita telah menyelesaikan pembacaan kitab Imamat. Hari ini kita memulai pembacaan Alkitab dari kitab Bilangan 5 \u2013 6 karena 10 pasal pertama dari kitab Bilangan tidak berdasar perkiraan urutan kronologis dari peristiwa&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":995,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-994","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/994","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=994"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/994\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":997,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/994\/revisions\/997"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/995"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=994"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=994"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=994"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}