{"id":8639,"date":"2024-03-05T21:35:39","date_gmt":"2024-03-05T14:35:39","guid":{"rendered":"https:\/\/gbik.info\/?p=8639"},"modified":"2024-03-05T21:35:39","modified_gmt":"2024-03-05T14:35:39","slug":"srhi-6-mar-24-jesus-love-sinner","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/2024\/03\/05\/srhi-6-mar-24-jesus-love-sinner\/","title":{"rendered":"SRHI 6 MAR 24 &#8211;  JESUS LOVE SINNER"},"content":{"rendered":"<blockquote class=\"wp-block-quote\" style=\"text-align: center;\"><p><strong><em>\u201cJawabnya : tidak ada, Tuhan. Lalu kata Yesus : Akupun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.\u201d<\/em><\/strong><cite><strong>(<em>Yoh. 8:11<\/em>)<\/strong><\/cite><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nKita adalah pendosa, kita hanya berbeda cara dalam melakukan dosa, semua manusia adalah pendosa. Manusia baru akan stop berbuat dosa ketika ia mati, hal ini didasarkan pada nature dosa yang sudah melekat didalam diri manusia (Rm.3:10). Dosa timbul karena manusia tidak mengerti kemauan dan kehendak Allah. Bagaimana manusia dapat mengerti kehendak Allah jika saat Firman Allah diberitakan dalam khotbah malah tidur? Malah main hp? Malah sibuk sendiri? Ngobrol sana sini sampai membuka Alkitab pun tidak. Bagaimana kita bisa mengerti Kehendak Ilahi kalau sibuk dengan kedagingan dan ego diri?!. Manusia akan dapat memperbaiki diri atau setidaknya meminimalisir perbuatan dosa ketika ia mengerti Kehendak Ilahi yang tertulis didalam Kitab Suci.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nMengerti bahwa manusia memiliki masalah serius dengan dosa dan mengerti bahwa kita adalah pendosa tidak menjadikan Allah tidak mengasihi kita. Allah memang sangat membenci dosa, tetapi Allah tidak membenci pendosa. Ketika kita melakukan dosa, Allah sangat menyayangkan hal itu, mungkin kalau bisa dikata Allah pasti akan berkata<em> \u2018anak Ku, mengapa engkau melakukan itu?\u2019<\/em>. Allah akan kecewa ketika kita melakukan dosa, tetapi Allah tidak akan berhenti mencintai kita. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita akan terus melakukan dosa dan melukai hatiNya?\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nDalam Yohanes 8:1-11 terdapat sebuah kisah pendosa yaitu perempuan yang berbuat zinah yang seharusnya dihukum mati (dirajam batu). Namun sebuah hal menarik terdapat didalam kisah ini yaitu ucapan akhir Tuhan Yesus yang berbunyi <em>\u2018<strong>Aku pun tidak menghukum engkau<\/strong>, <strong>pergilah<\/strong> dan <strong>jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang<\/strong>\u2019.<\/em> Perkataan Tuhan Yesus ini mengandung beberapa arti yang dalam, pertama <em>\u2018Aku pun tidak menghukum engkau\u2019 <\/em>memiliki arti bahwa Tuhan Yesus mengasihi pendosa dan tidak ingin menekan atau mempermasalahkan dosanya lebih lanjut sehingga psikis dari pendosa tersebut aman. Hal ini berbanding terbalik dengan manusia yang cenderung selalu mengungkit-ungkit masalah\/dosa dan berusaha untuk merusak mental pendosa tersebut. Kedua, <em>\u2018pergilah\u2019<\/em> memiliki arti bahwa Yesus adalah Allah yang Kudus yang tidak bisa bersama-sama dengan dosa. Tuhan Yesus menyuruh pendosa tersebut pergi bukan karena manusianya tetapi apa yang telah manusia tersebut lakukan, dosa itulah yang membuat Allah tidak nyaman. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk tidak berkompromi dengan dosa. Ketiga <em>\u2018jangan berbuat dosa lagi\u2019<\/em> memiliki arti bahwa perempuan tersebut tidak diperkenankan untuk melakukan dosa yang sama lagi. Hal ini akan membawa kepada pertobatan keberlanjutan dimana manusia akan bertobat sehari ke sehari, bertobat dari dosa a \u2013 b sampai z dan berusaha tidak melakukan dosa yang sama lagi, lagi dan lagi.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nAllah mengasihi pendosa tetapi Allah sangat membenci dosa! Marilah kita yang adalah pendosa berusaha untuk menyenangkan Allah dan berusaha untuk hidup suci sesuai dengan kehendak Allah atas kehidupan kita (Mat.5:48). Kabarkan kabar baik ini bahwa Yesus mengasihi pendosa, aku, kamu dan mereka.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nTuhan Yesus memberkati\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<h5><em><span style=\"color: blue;\">(YG090324)<\/span><\/em><\/h5>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pokok Doa GBIK:<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Bersyukur untuk segala doa yang telah Tuhan jawab seturut kehendak Tuhan, bersyukur untuk kesehatan dan berkat yang Tuhan berikan;<\/li>\n<li>Berdoa untuk jemaat yang masih menyimpan akar pahit, dendam kepada orang lain agar Tuhan memampukan untuk dapat mengampuni, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan diri<br \/>\n            sendiri.<\/li>\n<li>Berdoa untuk kerukunan antar umat beragama maupun kerukunan dalam jemaat gereja dapat terjalin dengan baik dan damai.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Pokok Doa TPW PENGHARAPAN, Birinoa, Halmahera Utara<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Doakan Anak-anak GS Pdm. Patty Defretes yang sedang menempuh pendidikan di SMU dan SMP<\/li>\n<li>Doakan pekerjaan jemaat sebagai petani, agar Tuhan cukupkan kebutuhan ekonomi jemaat<\/li>\n<li>Doakan kesehatan jemaat TPW Pengharapan, Birinoa.<\/li>\n<\/ul>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cJawabnya : tidak ada, Tuhan. Lalu kata Yesus : Akupun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.\u201d(Yoh. 8:11) Kita adalah pendosa, kita hanya berbeda cara dalam melakukan dosa, semua manusia adalah pendosa. Manusia baru akan stop berbuat dosa ketika ia mati, hal ini didasarkan pada nature dosa yang sudah melekat&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":7170,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-8639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-srhi-santapan-rohani-hari-ini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8639"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8639\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8662,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8639\/revisions\/8662"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}