{"id":3629,"date":"2020-12-26T00:28:57","date_gmt":"2020-12-25T17:28:57","guid":{"rendered":"http:\/\/gbik.info\/?p=3629"},"modified":"2020-12-25T21:42:01","modified_gmt":"2020-12-25T14:42:01","slug":"srhi-26-des-20-bapa-yang-kekal-raja-damai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/2020\/12\/26\/srhi-26-des-20-bapa-yang-kekal-raja-damai\/","title":{"rendered":"SRHI 26 DES 20 &#8211; BAPA YANG KEKAL RAJA DAMAI"},"content":{"rendered":"<blockquote class=\"wp-block-quote\" style=\"text-align: center;\"><p><em><strong>&#8220;Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.\u201d<br \/>\n<cite> (Mat 10:34)<\/cite><\/strong><\/em><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nPada kitab Yesaya 9:5 dikatakan : Sang Mesias disebut sebagai bapa yang Kekal Raja Damai. Namun, dalam kitab Matius 10:34 : \u201cJangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi : Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.\u201d Apakah ini membuat kita bertanya, apa yang dimaksud? Fakta menunjukkan ketika kita memutuskan menjadi orang percaya banyak hal yang mungkin dihadapi. Mungkin kita akan dikucilkan, kita akan dihina, dibedakan bahkan kita juga harus berperang melawan keinginan daging. Jika demikian apakah Yesus tetap Raja Damai?\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nYesus adalah Raja Damai. Melalui pengorbanan Diri-Nya diatas kayu salib, Ia telah mendamaikan kita dengan Allah. Jika dulunya kita berada pada posisi melawan Allah karena keberdosaan kita, tetapi karena Yesus, dosa kita dibayar lunas dan menjadikan kita di pihak Allah. Ketika Allah sudah berkenan berdamai dengan kita bukan berarti kita bebas dari tantangan kehidupan. Kita akan tetap berjuang melawan keinginan daging kita, berjuang melawan dosa, berjuang untuk tetap di dalam iman di tengah-tengah dunia yang menolak Kristus. Namun, dalam semua perjuangan kita, damai di dalam Dia akan tetap kita nikmati.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nDengan percaya Yesus kita menikmati perdamaian dengan Allah namun dengan demikian kita masih berperang dan berjuang di tengah dunia yang tidak mengenal Allah. Oleh sebab itu tetaplah melekat pada Raja Damai untuk kita bisa menikmati damai dan memuliakan Dia.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nSekarang banyak orang mulai kebal, mereka tidak sensitif lagi. Mereka banyak yang bergaul akrab dengan orang yg tidak mengenal Allah. Banyak dari mereka yang membenci orang Kristen, bergaul akrab hanya untuk mendapatkan keuntungan, yang akhirnya melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen. Dunia ini tidak sesederhana seperti yang kita pikirkan. Orang Kristen ada juga yang karena uang bisa mengalahkan iman.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nIni adalah dunia, jadi kita tidak melihat ada pengharapan, kecuali kepada Tuhan. Kita tahu dunia ini menakutkan, orang sudah melihat kekayaan, buta mata rohaninya. Orang mau melakukan sesuatu, bahkan menjual iman. Kalau sudah berfokus dengan kekayaan, mereka mulai kompromi. Tuhan Yesus mengatakan &#8220;Saya datang untuk memberikan pedang, satu-satunya pedang yang merupakan kebutuhan mutlak yang diberikan oleh Yesus Kristus &#8221;\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nYesus adalah Raja Damai setelah kita berperang dengan kejahatan, akhirnya Yesus membasmi yang salah. Setelah menang, damai akan datang kepada kita. Itulah kebebasan, damai yang diraih melalui peperangan yang diberikan oleh Yesus Kristus.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nYesus Kristus satu-satunya Juru Selamat, tidak ada Juru Selamat selain Yesus Kristus. Agama tidak akan memberi keselamatan kepada kita.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nJika kita melawan dan tidak berkompromi dengan kejahatan, kita akan mempunyai kedamaian. Disitu, Tuhan Yesus menjadi Raja Damai.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nSaat kita datang ke gereja untuk merayakan Natal, apa yang terlintas didalam hati kita?\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nKedatangan Yesus ke dunia adalah satu-satunya yang memberikan damai kehidupan orang percaya di Dunia dan kehidupan kekal kelak. Perdamaian ini baru diterima, setelah Dia mati di atas kayu salib. Dia bangkit, naik ke Sorga dan memberikan Roh penolong yang menyertai dalam kehidupan kita.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nMari kita mengerti sebagai orang percaya dengan artinya bahwa seorang anak telah lahir untuk kita, Yesus namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nBapa yang tidak berkompromi dengan kejahatan.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nTuhan Yesus memberkati<\/p>\n<p><em><font style=\"color: blue;\" size=\"-1\">(MS26122020)<\/font><\/em><\/p>\n<p><strong>Pokok Doa:<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Doakan  Pemerintah Indonesia dalam menyetabilkan perekonomian nasional melalui program program UKM yg sudah berjalan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia;<\/li>\n<li>Doakan GBIK tetap dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab bersama dengan Pemerintah Indonesia mengedukasi jemaat utk patuh taat aturan protokol kesehatan menjaga Iman Imun supaya Aman;<\/li>\n<li>Doakan Jemaat GBIK dapat bertumbuh dalam Iman berbuah dalam karya nyata  dlm kehidupan sehari -harinya sehingga menjadi saksi saksi Kristus yg hihup dan menghidupi pada akhirnya hanya Tuhan Yesus di per muliakan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.\u201d (Mat 10:34) Pada kitab Yesaya 9:5 dikatakan : Sang Mesias disebut sebagai bapa yang Kekal Raja Damai. Namun, dalam kitab Matius 10:34 : \u201cJangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":3631,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-3629","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-srhi-santapan-rohani-hari-ini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3629","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3629"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3629\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3630,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3629\/revisions\/3630"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3631"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3629"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3629"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3629"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}