{"id":2971,"date":"2020-08-20T02:48:48","date_gmt":"2020-08-19T19:48:48","guid":{"rendered":"http:\/\/gbik.info\/?p=2971"},"modified":"2020-08-19T14:58:28","modified_gmt":"2020-08-19T07:58:28","slug":"srhi-20-agu-20-walau-dijahati-musuh-tetap-mengasihi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/2020\/08\/20\/srhi-20-agu-20-walau-dijahati-musuh-tetap-mengasihi\/","title":{"rendered":"SRHI 20 Agu 20 &#8211; WALAU DIJAHATI MUSUH TETAP MENGASIHI"},"content":{"rendered":"<h4 style=\"text-align: center;\"><em>\u201cKamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu\u201d <\/em><\/h4>\n<h4 style=\"text-align: center;\">(Matius 5:43-44)<\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nPenjajahan terhadap bangsa Indonesia meninggalkan luka yang sangat dalam. Bagaimana tidak? Kekayaan alam bangsa Indonesia direbut dan dimanfaatkan bangsa penjajah, bangsa Indonesia mengalami penderitaan fisik dan psikis, perekonomian bangsa anjlok, dan banyak korban jiwa tanpa dosa terjadi. Kalau kita mengingat hal itu tentu kita tidak bisa memberi ampun kepada mereka apalagi keluarga kita mungkin jadi korban keganasan dan kejahatan para penjajah. Namun, sejarah kelam itu telah terjadi dan kita sekarang sudah merdeka dan harus bangkit dari segala aspek kehidupan. Kita tidak boleh larut dalam duka yang mendalam bahkan menyimpan dendam atau balik berbuat jahat terhadap penjajah, karena sesungguhnya setiap kita pasti menghadapi musuh. Apakah musuh itu disebabkan oleh perbuatan kita yang kurang menyenangkan hati orang lain, atau dalam hal rohani, kita dimusuhi oleh karena kita percaya kepada nama Tuhan Yesus Kristus (Mat. 10:22). Bagi manusia duniawi musuh atau lebih tepatnya orang yang memusuhi kita harus dibenci, tetapi bagi manusia rohani atau sebagai anak-anak Tuhan musuh atau orang yang memusuhi kita harus dikasihi, tetap diperlakukan baik dan didoakan. Daud memberi contoh kepada kita bagaimana ia mengasihi musuh-musuhnya. Kepada raja Saul yang terus menerus mencoba membunuhnya, ia menyebutnya sebagai orang yang dicintainya dan yang ramah. Ia ungkapkan itu dalam ratapannya saat Saul dan Yonatan anak Saul yang mati terbunuh dalam peperangan. <em>\u201cSaul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa\u201d<\/em> (2 Sam. 1:23).\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nMari kita sejenak merenungkan siapa musuh atau orang yang memusuhi kita saat ini! Musuh kita saat ini adalah bukan tetangga kita, atasan kita, suku bangsa dan bangsa lain yang berbeda ras, warna kulit dan bahasa. Kalau kita renungkan secara dalam, musuh kita adalah sama seperti yang dialami Daud, yaitu mereka yang menghalangi kita dalam melakukan kehendak Allah bagi kita. Selama Saul masih hidup, Daud terhalang untuk melakukan kehendak Allah yaitu menjadi raja atas Israel. Namun dalam lubuk hati Daud yang terdalam tidak ada sedikitpun niat untuk menyingkirkan raja Saul. Kini Saul dan anaknya telah mati, dan seharusnya Daud bersukacita karena hambatan bagi dia untuk menjadi raja telah tiada, namun kematian Saul dan Yonatan membawa duka yang sangat dalam bagi Daud. Inilah contoh hati yang mengasihi musuh.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nDari pengalaman hidup Daud, kita sekarang dapat mengerti bahwa mengasihi musuh adalah penyangkalan diri terhadap ambisi dan keinginan pribadi yang meluap-luap. Mengasihi musuh juga berarti kita harus dengan hati yang tabah dan sabar menerima segala macam gangguan, hambatan, dan perilaku jahat yang dilakukan orang lain terhadap kita sebagai cara Allah membentuk karakter kita dan mempersiapkan kita meraih rencana Allah dalam hidup kita; dan jika hal ini kita sadari maka tindakan mengasihi musuh adalah sesuatu yang mutlak kita lakukan sekarang ini, bukan nanti. Dalam hal ini, kita juga harus tahu bahwa mengasihi musuh bukan berarti kita menyukai atau membenarkan perbuatanya, tetapi dengan mengasihinya berarti kita menyerahkan kepada Tuhan yang mampu mengubah manusia dan membalas segala perbuatan manusia (Rm. 12:19). Dan dengan menyerahkan orang yang memusuhi kita kepada Tuhan Yesus Kristus berarti kita juga rindu supaya mereka bertobat dan diselamatkan Tuhan.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nSaudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mari kita kembali renungkan hal ini! Jika orang duniawi memusuhi musuhnya dan berusaha membasminya dengan segala cara, maka itu sesungguhnya akan memunculkan musuh-musuh lainnya yang lebih besar dan banyak lagi, dan satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh kita adalah dengan cara mengasihinya seperti ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, Juruselamat kita. Selamat mencoba! Tuhan Yesus memberkati.<br \/>\n<em><font color=\"blue\" size=\"-1\">(AP20082020)<\/font><\/em>\n<\/p>\n<p><strong>Pokok Doa:<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Mendoakan para Camat , Lurah serta Ketua RW dan RT seluruh Indonesia kiranya mendapat hikmat Tuhan dalam menerapkan protokol kesehatan di lingkungan mereka;<\/li>\n<li>Mendoakan Jemaat yang masih mencari pekerjaan , diberikan anugerah Tuhan bisa mendapat pekerjaan dan kuat iman dalam Kristus;<\/li>\n<li>Mendoakan Anak-anak SM kelas Indria diberikan kesehatan dan makin bertumbuh dalam pengenalan kasih Kristus.<\/li>\n<\/ol>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cKamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu\u201d (Matius 5:43-44) &nbsp; Penjajahan terhadap bangsa Indonesia meninggalkan luka yang sangat dalam. Bagaimana tidak? Kekayaan alam bangsa Indonesia direbut dan dimanfaatkan bangsa penjajah, bangsa Indonesia mengalami penderitaan fisik dan psikis, perekonomian bangsa&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":2975,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-2971","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-srhi-santapan-rohani-hari-ini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2971"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2974,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2971\/revisions\/2974"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}