{"id":12566,"date":"2026-03-16T00:56:05","date_gmt":"2026-03-15T17:56:05","guid":{"rendered":"https:\/\/gbik.info\/?p=12566"},"modified":"2026-03-16T01:01:59","modified_gmt":"2026-03-15T18:01:59","slug":"12566","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/2026\/03\/16\/12566\/","title":{"rendered":"SRHI 16 MARET 2026 &#8211; NAZAR HANA : PENYERAHAN TOTAL"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">Bacaan 16 Maret 2026<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">1 Samuel 1-3<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>\u201cKemudian bernazarlah ia, katanya: \u201dTuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.\u201d\u201d<\/em><br \/>\n<em>\u202d\u202d1 Samuel\u202c \u202d1\u202c:\u202d11\u202c<\/em><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Kisah Hana yang terdapat didalam 1 Samuel 1:1-28 merupakan sebuah kisah luka eksistensial yang lahir dari meja makan (keluarganya sendiri &#8211; Penina, madu Hana yang terus menerus menyakiti hatinya). Hana tidak terluka oleh karena suaminya yang kurang cinta, namun karena Penina selalu menyerang sisi krusial dalam kehidupan orang Perjanjian Lama; yaitu keturunan. Ketiadaan keturunan\/kemandulan merupakan sebuah situasi yang menyedihkan bahkan memalukan karena hal tersebut diidentikkan kepada ketidakberkenanan Tuhan atas seseorang (hilangnya masa depan, runtuhnya silsilah). <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;<em>Oleh karena hal yang menyakitkan, akhirnya Hana datang kepada Tuhan. Ia mengadukan perkaranya kepada Ia yang berkuasa atas alam semesta. Hana tau bahwa harta suaminya tidak bisa memulihkan statusnya dihadapan dunia, maka akhirnya Hana meninggalkan kepercayaannya kepada hal-hal lahiriah itu dan memfokuskan diri kepada Tuhan sebagai sumber pertolongan<\/em>&#8221; <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Hana bernazar, dan nazar yang ia ucapkan sangat spesifik (1 Sam.1:11), ini menandakan bahwa Hana bersungguh-sungguh atas apa yang ia ucapkan. Ia juga bernazar sesuai dengan hukum nazir (Bilangan 6) dan menyerahkan anaknya kelak untuk menjadi seorang nazir sepanjang hidupnya. Dalam tindakan tersebut terdapat &#8220;makna tersembunyi&#8221; yang luar biasa: Hana bergumul bertahun-tahun untuk memiliki anak agar ia tidak lagi dihina. Namun, saat ia akhirnya mendapatkan anak, ia justru melepaskan hak kepemilikannya. Dasar dari keputusan tersebut didasarkan oleh karena Hana ingin bangsanya memiliki pelayan yang didapatkan dari Tuhan. Saat itu Israel sedang dalam krisis kepemimpinan dimana imam Eli sudah tua dan anak-anaknya berlaku jahat. Krisis itulah yang menjadi dasar bagi Hana untuk bernazar menyerahkan anaknya menjadi pelayan Tuhan bagi bangsa; terbukti akhirnya Samuel menjadi seorang Nabi. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;<em>Nazar Hana mengajarkan kita tentang pergeseran motivasi dalam doa. Seringkali doa kita tidak dijawab bukan karena Tuhan tidak mendengar, tetapi karena doa yang kita sampaikan hanya berfokus pada pemuasan ego sendiri<\/em>&#8220;<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Nazar Hana adalah bukti bahwa penyerahan total adalah kunci dari kelimpahan dan berkat Tuhan. Ketika Hana menyerahkan Samuel, Tuhan justru memberikannya lima anak lagi di kemudian hari (1 Samuel 2:21). Oleh sebab itu, marilah kita dapat melihat contoh ini untuk diterapkan didalam kehidupan. Dimana kita perlu mencontoh Hana yang tidak menganggap berkat Tuhan sebagai sesuatu yang perlu kita pegang erat-erat sampai akhirnya lupa dengan Sang Pemberi berkat. Namun sebaliknya, biarlah berkat yang kita terima dapat kita serahkan kembali kepada Tuhan untuk Ia kelola; baik itu pasangan, pekerjaan, anak, relasi, talenta, harta maupun jabatan. Karena kalau kita pegang berkat terlalu erat, maka hati kita akan sakit. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Pesan dari kisah ini tidak sedang mengajak kita untuk bernazar seperti Hana. Namun alangkah baiknya jika kita mau, rindu serta siap untuk bernazar. Pesan pentingnya adalah bahwa :<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">&#8220;<em>Sesuatu yang kita dapatkan tidak boleh kita pegang untuk kita nikmati sendiri, namun perlu kita serahkan kepada Tuhan agar Ia yang mengelolanya<\/em>&#8221; <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><strong><span class=\"s1\">Tuhan Yesus memberkati <\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><strong><span class=\"s1\">YG160326<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><strong><span class=\"s1\">Pokok Doa SRHI GBIK<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><strong><span class=\"s1\">Senin, 16 Maret 2016<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">1. Berdoa bagi keluarga besar Dkn. Danet &amp; Ibu Peggy yang berduka atas berpulangnya Ibunda terkasih (Ibu Eugenie Margriet Amahorseja) agar diberikan kekuatan dan penghiburan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">2. Mengucap syukur atas Ibadah Pagi 1, Sekolah Minggu, Ibadah Pagi 2, Ibadah Sore dan Ibadah Penghiburan yang telah berjalan dengan baik.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">3. Berdoa untuk pembangunan insfrastruktur, terutama yang mengambil jalur jalan raya di daerah Jakarta dan sekitarnya, yang saat ini berjalan supaya dapat segera diselesaikan sehingga kemacetan dapat berkurang.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><strong><span class=\"s1\">Pokok Doa untuk Cabang Imanuel, Rantauprapat (Sumatera Utara)<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">1. Berdoa untuk jemaat yang sedang sakit maupun dalam keadaan lemah tubuh supaya Tuhan jamah dan sembuhkan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">2. Berdoa supaya Jemaat Cabang Imanuel Rantauprapat dapat saling menopang satu dengan lainnya sehingga tetap dikuatkan dalam iman dan pengharapan akan kasih Kristus.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">3. Berdoa untuk Pdt. Rejeki Pardamean Tambunan supaya Tuhan memberikan hikmat, kesehatan dan kemampuan dalam melayani Jemaat di Cabang Imanuel.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan 16 Maret 2026 1 Samuel 1-3 \u201cKemudian bernazarlah ia, katanya: \u201dTuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.\u201d\u201d \u202d\u202d1&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":12569,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[20,38],"tags":[51],"class_list":["post-12566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan","category-srhi-santapan-rohani-hari-ini","tag-nazar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12566"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12566\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12568,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12566\/revisions\/12568"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12569"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}