{"id":10318,"date":"2025-01-04T20:58:26","date_gmt":"2025-01-04T13:58:26","guid":{"rendered":"https:\/\/gbik.info\/?p=10318"},"modified":"2025-01-04T20:59:06","modified_gmt":"2025-01-04T13:59:06","slug":"srhi-5-januari-2025-menghidupi-nilai-nilai-injil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/2025\/01\/04\/srhi-5-januari-2025-menghidupi-nilai-nilai-injil\/","title":{"rendered":"SRHI 5 JANUARI 2025 &#8211; MENGHIDUPI NILAI-NILAI INJIL"},"content":{"rendered":"<blockquote class=\"wp-block-quote\" style=\"text-align: center;\"><p><strong><em>&#8220;21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus&#8211;itu memang jauh lebih baik; 24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. 25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku, bahwa aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu semua, supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, 26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.\u201d<\/em><\/strong><cite><strong><br \/>\n(<em>Filipi 1:21-26<\/em>)<\/strong><\/cite><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nSikap hidup secara optimis adalah sikap keadaan diri yang mengandalkan Tuhan, apalagi sebagai orang percaya yang saat ini sudah memasuki Tahun 2025. Sikap seperti ini juga dialami oleh Rasul Paulus ketika menjalani hidup dan melayani Tuhan di tengah penderitaan, sekalipun saat dia dipenjara dan kemungkinan besar akan dieksekusi mati karena imannya. Rasul Paulus sungguh tidak peduli akan hukuman itu sehingga ia berani berkata: &#8220;Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan&#8221; (Flp. 1:21).\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nRasul Paulus malah semakin gigih menjalani hidupnya dengan penuh optimisme dan tetap melayani Tuhan dengan memberitakan Injil meski berada di dalam penjara dengan cara-cara yang luar biasa. Hal ini memberikan suatu teladan bagi kita semua bahwa sekalipun kita memiliki persoalan seperti Rasul Paulus yang dipenjara, di dalam kesengsaraan itu Paulus tidak merasakan adanya satu tekanan yang membuatnya menderita. Hal ini karena Rasul Paulus merasakan bahwa penderitaan demi penderitaan yang ia hadapi adalah bagian dari menjalankan misi Allah, yaitu memberitakan Injil. Oleh sebab itu, ketika kita dalam melayani Tuhan dan memberitakan Injil Tuhan menghadapi tekanan dan rintangan, kita tidak boleh kendor atau berhenti, melainkan meneladani Paulus dan juga hamba-hamba Tuhan lainnya.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nInilah nilai-nilai Injil yang hidup dalam diri Rasul Paulus dan yang telah dihidupinya. Walaupun kisah Rasul Paulus berada di tengah penderitaan, ia tidak bersusah hati. Ia malah menjadikan hidupnya tetap berarti dan menjadi berkat bagi banyak orang (Flp. 1:22a, 25-26).\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nJadi, Saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita belajar dari kesetiaan Rasul Paulus di dalam melayani Tuhan dan memberitakan Injil-Nya. Walaupun yang dia alami banyak hal yang tidak menyenangkan, itu tetap dilakukan dengan setia, sabar, dan dedikasi yang tinggi karena ia sadar bahwa hidupnya telah diselamatkan oleh Tuhan dan hidupnya untuk kemuliaan Tuhan saja. Selamat menapaki Tahun Baru 2025. Tuhan Yesus memberkati, Amin.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus&#8211;itu memang jauh lebih baik; 24 tetapi lebih perlu&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":10335,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-10318","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-srhi-santapan-rohani-hari-ini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10318","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10318"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10318\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10336,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10318\/revisions\/10336"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10318"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10318"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10318"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}