{"id":7273,"date":"2023-04-18T23:07:58","date_gmt":"2023-04-18T16:07:58","guid":{"rendered":"http:\/\/gbik.info\/?p=7273"},"modified":"2023-04-18T23:09:59","modified_gmt":"2023-04-18T16:09:59","slug":"srhi-19-apr-23-hope","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/2023\/04\/18\/srhi-19-apr-23-hope\/","title":{"rendered":"SRHI 19 APR 23 &#8211; HOPE"},"content":{"rendered":"<h4 style=\"text-align: center;\"><em>&#8220;Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang&#8221;<\/em><\/h4>\n<h4 style=\"text-align: center;\">(Amsal 23:18)<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nAdakah dari kita yang pernah menaruh sebuah harapan? Atau bahkan saat ini sedang berpengharapan? Pengharapan merupakan sebuah bentuk keinginan besar akan sesuatu dan sebagai bagian dari iman. Dalam hidup ini pasti kita pernah bersinggungan dengan sebuah pengharapan, entah ketika kita berharap mendapat thr atau berharap orang yang kita sukai peka terhadap gestur kita. Namun tak selamanya pengharapan berujung pada sesuatu yang menyenangkan, terkadang bahkan menyebabkan kekecewaan. Hal inilah yang terjadi pada murid Tuhan Yesus, mereka kecewa karena junjungannya tiada (Yoh.21:1-14 \u2018tema mingguan GBIK). Kekecewaan para murid didasari karena mereka menaruh pengharapan bahwa Yesus akan menaikan derajat mereka (<em>dalam konteks budaya, Yahudi memiliki hierarki dan nelayan adalah tingkatan rendah \u2013 sudut pandang antrhopologi<\/em>) ketika Yesus dapat menjadi raja tapi malah meninggal dunia. Para murid terkesan hanya melihat Yesus dari sudut pandang manusia saja padahal Yesus memiliki dwinature (<em>nature Allah dan manusia<\/em>). Dan para murid seakan lupa sebuah janji bahwa Yesus akan bangkit pada hari ke-3 sehingga mereka kecewa dan menganggap harapan mereka sia-sia. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa seorang yang sehari-harinya bersama dengan Tuhan belum tentu percaya 100%, terbukti dengan respon para murid yang akhirnya kembali ke pekerjaan lama mereka tanpa mau berurusan lagi dengan iman mereka. Jika para murid mau berurusan lagi dengan iman kepada Tuhan disaat Yesus mati, maka mereka akan dapat mengingat janji kebangkitan sehingga mereka tidak kembali kepekerjaan lama dan hilang harapan. Hal-hal yang dialami oleh para murid mungkin juga dialami oleh kita. Berapa banyak dari kita yang tidak lagi percaya akan Kuasa-Nya dan seakan menganggap bahwa Tuhan telah tiada. Berapa banyak dari kita yang ketika harapan sirna malah kembali ke kehidupan lama. Berapa banyak dari kita yang ketika jawaban doa tidak sesuai, kita malah menyalahkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan tidak sayang pada kita. Lalu bagaimana kita menyikapi pengharapan-pengharapan yang ada? Sejatinya kekecewaan adalah sikap, bukan rasa. Oleh karena kecewa adalah sikap maka kita sebagai orang percaya tidak boleh mengambil sikap tersebut untuk meresponi sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan kerohanian, karena ciptaan tidak akan dapat menyelami agenda Tuhan. Sikap yang benar dalam menyikapi kehidupan kerohanian adalah sikap bersyukur. Bersyukur atas apapun yang terjadi, bersyukur atas apa yang dapat dinikmati, bersyukur atas proses pendewasaan Tuhan melalui segala peristiwa yang boleh terjadi dan bersyukur atas apapun yang kita alami. Jangan pernah mengukur standar pemikiran Allah dengan memakai standar pikiran manusia, karena jika demikian maka kita akan selalu merasa kecewa dan tidak akan pernah mau bersyukur. Percayalah bahwa harapan dalam Tuhan itu nyata dan percayalah bahwa Tuhan akan menepati janji-Nya. Tuhan tidak akan meninggalkan kita (<em>Ibr.13:5b \u2018Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau\u2019<\/em>) dan Tuhan pasti akan selalu menolong kita (<em>Yes.41:10 \u2018Janganlah takut, sebab Aku menyertai engaku, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan\u2019<\/em>). Amin, Tuhan Yesus memberkati.<\/p>\n<h5 style=\"text-align: justify;\"><em><span style=\"color: blue;\">(YG19042023)<\/span><\/em><\/h5>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pokok Doa:<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Berdoa untuk Gereja kita yang senantiasa mendukung jemaat semakin bertumbuh dalam iman;<\/li>\n<li>Doakan Jemaat yang sedang perjalanan ke luar kota di musim liburan ini;<\/li>\n<li>Mendoakan TNI dan Polri dalam menjaga NKRI menjelang Hari Raya Idul Fitri.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Pokok Doa GBIK Cabang Alfa Omega, Gamhoku, Halmahera Utara<\/strong><\/p>\n<ul>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-7269\" src=\"http:\/\/gbik.info\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/04.jpeg\" width=\"296\" height=\"395\" \/><\/p>\n<li>Bersyukur untuk Ibadah dan Perayaan Paskah, Ulang Tahun Gereja, serta ucapan syukur untuk pelayanan Sdri Janet Surya Trini Manikome, S.Pd.K di Birinoa selama kurang lebih 4 tahun sudah berjalan dengan baik;<\/li>\n<li>Doakan Jemaat yang sedang mencari perkerjaan dan yang sudah mendapatkan pekerjaan;<\/li>\n<li>Doakan Anak jemaat yang sudah melewati ujian sekolah dan sedang mencari sekolah untuk pendidikan selanjutnya.<\/li>\n<\/ul>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang&#8221; (Amsal 23:18) Adakah dari kita yang pernah menaruh sebuah harapan? Atau bahkan saat ini sedang berpengharapan? Pengharapan merupakan sebuah bentuk keinginan besar akan sesuatu dan sebagai bagian dari iman. Dalam hidup ini pasti kita pernah bersinggungan dengan sebuah pengharapan, entah ketika kita berharap mendapat thr&#8230;<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on wp_trim_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on wp_trim_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":6780,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-7273","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-srhi-santapan-rohani-hari-ini"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7273","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7273"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7273\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7277,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7273\/revisions\/7277"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6780"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7273"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7273"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/gbik.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7273"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}