SRHI 26 OKT 23 – MAKNA IBADAH

Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,
maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya;”
(Yesaya 58:13-14)

Ritual keagamaan merupakan salah satu bentuk ibadah kita sebagai orang percaya kepada Tuhan. Akan tetapi terkadang ketika beribadah tidak dengan sungguh atau tidak dengan kesejatian, bukannya membuat Tuhan senang. Melainkan memuakkan hati Tuhan. Kesalehan yang ia tunjukkan hanya bersifat lahiriah semata. Hal itulah yang terjadi pada bangsa Israel.

Orang Israel yang mengaku dirinya umat Tuhan, dan berlaku bagitu religius, setiap hari baribadah kepada Tuhan, mencari kehendak-Nya, serta setia melakukan perintah Tuhan. Dengan melakukan semya hal itu, umat Israel merasa bahwa mereka telah menyukakan hati Tuhan, dan betapa terkejutnya mereka ketika ibadah yang mereka lakukan tidak membuat berkat Tuhan turun atas mereka. (Ayat 3) menjadi pertanyaan kita saat ini, mengapa Tuhan menghiraukan ibadah umat Israel? Oleh karena tindakan religius umat penuh dengan kemunafikan. Tujuan mereka berpuasa bukan untuk merendahkan hasarat, melainkan mereka malah mengejar kepentingan pribadai dan memperlakukan orang dengan tidak layak (Ayat 3-4). Puasa mereka bukan meratapi keberdosaan mereka, melainkan hanya manipulasi agar Tuhan memberkati mereka.

Jelas itu bukanlah puasa atau ibadah yang diinginkan Tuhan. Puasa seperti itu hanya menundukkan kepala mereka bukan menundukkan hati mereka. Mereka mengira ibadah yang ditunjukkan dengan puasa dan mengenakan pakaian kabung lebih penting dari pada sikat dan tingkah laku. Hal itu berbanding terbalik dengan konsep Tuhan tentang ibadah. Ibadah yang di maksud Tuhan, haruslah berwujud pada tindakan, tingkah laku dan Dengan tulus hati benar-benar berserah dan beribadah kepada Tuhan tidak dengan kemunafikan. Seperti : melepaskan orang- orang yang sedang dalam penindasan dan ketidak adilan (ayat 6), menolong orang yang berkekurangan (ayat 7) ketika hari sabat benar- benar sepenuhnya untuk Tuhan, bukan cari- cari alasan untuk tidak memenuhinya ( ayat 13) dan bila mereka beribadah sesuai dengan kehendak Tuhan, barulah Dia akan memberkati mereka.

Saat ini baiklah kita mengintropeksi diri apakah kita beribadah hanya untuk kepentingan dan kepuasan pribadi, ataukah kita sungguh- sungguh ingin menyenangkan hati Tuhan? Setelah menyadari hal ini, bikalah dapat menyadarkan diri kita untuk fokus menyenangkan hati Tuhan ketika beribadah, tidak untuk tujuan yang lainnya.

(KS25102023)

Pokok Doa GBIK:

  1. Mari Kita doakan Acara DOA Semalaman Yang akan dilaksanakan Hari Jumat-Sabtu, Pemuda Yang Akan melayani dengan sukacita Dan menjadi suatu kesempatan untuk belajar melayani;
  2. Berdoa agar banyak Jemaat Yang Hadir dalam Ibadah Doa semalaman Dan target 80 orang Yang Hadir tiap sesi;
  3. Berdoa bagi semua Panitia Yang ambil bagian dalam Doa semalaman.

Pokok Doa Cabang PURWONEGORO, Jawa Tengah

  • Doakan agar jemaat dapat bekerja sama, sehati sepikir dengan gembalanya untuk menumbuhkembangkan gerejaNya di cabang Purwonegoro;
  • Doakan Rencana Pdm.Eko mengajar pelajaran agama Kristen di beberapa SD negeri di sekitar Purwonegoro, agar menjadi berkat dan kesempatan penjangkauan;
  • Doakan Gereja sedang proses mau membuat gudang sederhana dan taman dibelakang pastori.