SRHI 19 MAR 21 – DIURAPI MENJADI RAJA, KEMUDIAN DITOLAK OLEH ALLAH (1 Samuel 15:1-35)

“Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja””
(1 Samuel 15:22-23)

Dalam 1 Korintus 10 Rasul Paulus menulis tentang keadaan orang Israel ketika mereka keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan.  Rasul Paulus berkata bahwa mereka semua telah mengalami banyak berkat Tuhan yang luar biasa.  Mereka  dilindungi dengan tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam.  Mereka semua telah makan makanan rohani yang sama dan minum minuman rohani yang sama.  Tetapi meskipun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian terbesar dari mereka, karena ditewaskan di padang gurun (10:.3-5).  Mengapa demikan?  Karena dosa yang mereka perbuat.  Dosa mereka ialah tidak taat kepada Tuhan.  Rasul Paulus mengemukakan semua hal ini sebagai contoh dan peringatan bagi kita supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat (10: 6).

Dalam 1 Samuel pasal 13 dan 15 kita membaca satu contoh yang sangat menyedihkan tentang Saul, anak Kish dari suku Benyamin yang menjadi raja  pertama bangsa Israel.  Mula-mula Saul adalah seorang pemuda yang rendah hati, taat kepada orangtua dan sangat menghormati nabi Allah (1 Samuel 9).  Pengurapan Saul menjadi raja dilakukan oleh Samuel disertai tanda-tanda yang akan meyakinkan Saul  bahwa Allah memilih dia menjadi raja atas Israel.  Semula ada sebagian orang Israel yang meragukan kemampuan Saul menjadi raja bagi mereka.  Tetapi setelah Saul berhasil mengerahkan seluruh bangsa Israel bersatu dalam membebaskan suku Yabesh dari bangsa Amon, bangsa Israel akhirnya dengan suara bulat menerima Saul, dan di Gilgal Saul diresmikan sebagai raja mereka (1 Samuel 11: 15).

Saul diurapi Samuel menjadi raja.  Dia dipenuhi Roh Tuhan, sehingga ia menjadi manusia baru (10:6),  dia juga disertai oleh Tuhan (7), jadi ia sungguh seorang yang memiliki segala sesuatu yang diperlukan untuk menjadi seorang yang diurapi.  Sayangnya dia menyia-nyiakan hal itu  dan ia gagal.  Secara eksternal dia memiliki  kemampuan-kemampuan yang diberikan Allah kepadanya.  Namun dalam dirinya sendiri dia tidak begitu peduli akan hal-hal itu, ia enggan menanggapinya dan ia tidak menjadi manusia baru seperti yang Tuhan inginkan.  Saul memiliki segala kemungkinan yang bisa terjadi untuknya sebagai raja yang berhasil.  Dia besar, kuat, diberkati, dikaruniai, dipilih Allah, diberdayakan oleh Roh Kudus dan diberi oleh Tuhan setiap kesempatan untuk melayani Tuhan, namun dia tidak melakukannya, dia tidak taat.

Dua tahun setelah Saul memerintah sebagai raja, dia membuat dua pelanggaran yang sangat fatal.  Yang pertama dikisahkan dalam 1 Samuel 13: 5-14.  Orang Filistin dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut, bergerak maju untuk berperang melawan orang Israel.  Ketika Israel melihat bahwa mereka terjepit – sebab rakyat memang terdesak – maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi; malah ada orang Ibrani melarikan diri.  Saul masih menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak.  Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan korban bakaran. Baru saja ia selesai mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang.  Samuel  menegur Saul.  Saul telah melanggar perintah Tuhan yaitu mempersembahkan korban bakaran yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh seorang imam.

Pelangaran kedua yang dilakukan oleh Saul adalah ketika Allah menyerahkan bangsa Amalek untuk ditumpas oleh Saul. Allah memerintahkan kepada Saul agar tidak ada seorang pun yang dibiarkan tetap hidup. Bahkan semua ternak dan harta bendanya pun harus dimusnahkan.  Tetapi pada saat Saul mengalahkan orang Amalek, dia membiarkan Agag,  raja orang Amalek dan semua barang berharga serta ternak yang terbaik dibawa pulang ke Israel.  Dalam hal inipun Saul tidak mematuhi perintah Tuhan. Semua pelanggaran itu mengakibatkan Allah tidak lagi berkenan Saul menjadi Raja bagi Israel.  Allah telah menyiapkan seorang pengganti.

Kalau kita berpikir tentang alasan-alasan Saul melakukan semua itu, kelihatannya dapat diterima.  Saul telah menunggu 7 hari, rakyat sudah ketakutan, dan dia mau “menghormati Tuhan” sebelum mereka berperang.  Demikian juga dia membawa semua barang berharga dan ternak yang terbaik untuk “dipersembahkan kepada Tuhan”.  Tetapi bagi Tuhan ketaatan akan perintah Tuhan jauh lebih penting dari pada korban bakaran.

Saul gagal karena ada kekurangan yang parah dalam karakternya :

  • Tuhan tidak membutuhkan otak – Dia menginginkan karakter yang takut akan Allah
  • Tuhan tidak membutuhkan otot (otot besar yang kuat) – Dia menginginkan integritas
  • Tuhan tidak membutuhkan kebijaksanaan, kekuasaan, atau kekayaan siapa pun – Dia ingin ketaatan
  • Tuhan tidak membutuhkan persyaratan yang ambisius – Dia memerlukan orang yang rendah hati

Bapak. Ibu, Saudara, apakah yang dapat kita pelajari dari kehidupan raja Saul?  Ya,  benar sekali,  marilah kita taat dan melakukan ajaran firman Tuhan dalam hidup kita: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu” (1 Petrus 1:14).
(JET19032021)

Pokok Doa:

  1. Hikmat bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyiapkan kebijakan proses pembelajaran tahun pelajaran 2021/2022;
  2. Proses vaksinasi di Indonesia dijauhkan dari sindikat vaksin palsu yang berbahaya dan merugikan masyarakat;
  3. Proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri tahun 2021 dapat berjalan dengan baik. Kiranya jemaat GBIK yang mengikuti seleksi dimampukan Tuhan untuk dapat lolos.