SRHI 16 MAR 21 – KEEGOISAN MENUMBUHKAN DOSA

“Pada Waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.””
(Mat. 27:3-4a)

Dalam khotbah Minggu lalu yang disampaikan oleh Pdt. Radik Irianto sangat menarik untuk kembali kita renungkan bersama. Yudas Iskariot salah satu dari dua belas murid Tuhan yang dipercaya menjadi bendahara (Yoh. 12:2-6), yang setiap hari berjumpa dan mendengarkan ajaran Tuhan Yesus telah jatuh dalam dosa karena keegoisannya sehingga ia telah berkhianat kepada Gurunya, yaitu Yesus Kristus dengan menjual-Nya kepada imam-imam kepala dan tua-tua (Mat. 27:3-4a). Bahkan parahnya lagi, akibat keegoisannya yang menumbuhkan dosa, Yudas telah mati secara sia-sia (gantung diri) tanpa pertobatan (Mat. 27:5).

Apa yang dialami oleh Yudas menunjukkan bahwa ia seorang murid yang durhaka dan kehilangan kasih yang menjadi pokok penting ajaran Tuhan Yesus yang disampaikan-Nya ketika Ia ditanya dan dicobai oleh seorang ahli Taurat dengan pertanyaan: “Perintah apa yang paling penting dalam Alkitab?” Tuhan Yesus menjawab kepadanya: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39). Jadi benarlah apa yang juga tertulis dalam Matius 24:12 “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”. Sekarang ini yang harus kita perhatikan adalah diri kita masing-masing supaya kita tidak seperti Yudas Iskariot yang telah jatuh dalam dosa oleh karena sifat keegoisannya.

Perlu kita ketahui juga Saudara, kegoisan yang menumbuhkan dosa tidak serta merta hanya berupa materi atau uang saja seperti yang menimpa Yudas Iskariot. Sikap tidak sopan, kasar, bahkan sikap kritis kita terhadap orang lain dan bahkan firman Tuhan juga bisa menumbuhkan dosa. Mengapa? Karena segala sesuatu yang menjadi ukurannya adalah dirinya sendiri dan keegoisannya sendiri. Kalau kita gemar membaca dan merenungkan Alkitab, dosa itu tidak ada gunanya, tidak sehat, tidak adil, tidak bijak, tidak benar dan selalu bersifat egois. Sebagai contoh keegoisan diri adalah kita mungkin pernah berkata pada diri sendiri atau orang lain bahwa kita melakukan sesuatu adalah untuk kepentingan orang lain padahal sesungguhnya untuk kepentingan diri sendiri, misalnya untuk keuntungan diri, ingin dipuji dan supaya orang lain yang tidak disuka dibenci dan direndahkan orang lain. Jika hal itu terjadi maka akan terjadi perpecahan umat, kekacauan dan perbuatan jahat seperti yang tertulis dalam Yakobus 3:16 “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat”.

Jadi Saudara, mari intropeksi diri kita masing-masing, apakah kita ini sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang egois baik dalam keluarga, lingkungan, maupun dalam melayani Tuhan? Jika iya, bertobatlah (Khotbah minggu lalu: Bertobat itu bukan hanya menyesal) dan ingat bahwa akar dari setiap dosa adalah egois! Tuhan Yesus memberkati.
(AP16032021)

Pokok Doa:

  1. Upaya pemerintah mengembangkan SDM Pertanian guna mendorong produksi pangan dalam negeri kiranya dapat terus ditingkatkan, kesejahteraan petani dapat terus membaik;
  2. Para peneliti, ahli kesehatan dan pemerintah dimampukan Tuhan mengatasi munculnya varian baru covid-19. Kiranya masyarakat terus mematuhi protokol kesehatan;
  3. Dukungan doa bagi jemaat GBIK dan anggota keluarga yang berada dalam masa pemulihan kesehatan dan ekonomi pasca terkena covid-19.