SRHI 17 NOV 20 – PIKIRKAN SECARA MATANG SEBELUM BERNAZAR

“Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran. Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyaknyalah bajunya, sambil berkata: ”Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.”
(Hak. 11:29-31; 34-35)

Menjadi orang Kristen sejatinya adalah orang yang hidup dalam kemenangan bahkan lebih dari seorang pemenang (Rm. 8:37). Kita menang oleh karena kasih, pengorbanan, dan pembelaan Tuhan Yesus Kristus kepada kita (Rm. 8:33). Sehingga setiap orang Kristen dalam laku hidupnya selalu dipimpin oleh Roh Kudus yang senantiasa menyertai kita dalam segala kelemahan kita sehingga seharusnya kita tetap tenang ketika menghadapi cobaan, tantangan, dan ujian hidup (Rm. 8:26a). Tetapi pada kenyataannya, ketika orang Kristen diperhadapkan dengan situasi yang sulit dan banyaknya impian yang hendak diraihnya, maka timbullah keragu-raguan, kekuatiran, bahkan ketakutan seperti yang dialami Yefta sehingga ia harus bernazar kepada Allah dengan maksud dan tujuan supaya Allah mengabulkan permohonannya (Hak. 11:29-31) dengan tanpa berpikir panjang yang akhirnya membuat hatinya hancur luluh seketika setelah permohonannya dijawab Tuhan (Hak. 11:34-35).

Nazar yang di ucapkan Yefta sebenarnya tidak perlu terjadi jika ia menyadari bahwa Roh TUHAN menghinggapinya (Hak. 11:29). Tetapi juga bukan berarti bernazar kepada Allah itu tidak boleh. Yang harus diperhatikan oleh kita sebagai orang Kristen tentang nazar adalah bahwa ketika kita bernazar jangan karena meragukan kuasa Allah dan karena ingin menyogok Allah, supaya Ia mengabulkan permintaan dan keinginan kita (Hak. 11:30) seperti halnya ketika kita memberikan persepuluhan kepada Tuhan bukan untuk menyogok Allah atau memancing berkat Allah (Mal. 3:10) tetapi oleh karena kita sudah hidup dalam kemenangan dan diberkati Allah sejak kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Selain daripada hal tersebut di atas, kita dapat belajar dampak Nazar yang diucapkan Yefta. Dimana dari kecerobohannya, ketidakhati-hatiannya, atau tidak dipikirnya secara matang dalam mengucapkan nazar, akhirnya ia dan anak gadisnya justru mengalami kehidupan yang sangat memilukan (Hak. 11:36-40). Untuk itu supaya apa yang dialami Yefta tidak kembali terjadi dalam hidup kita sekarang ini, maka jangan bernazar kepada Tuhan jika tujuannya adalah untuk kepuasan diri (Hak. 11:30), janganlah bernazar kepada Tuhan jika kita tidak tahu aturan Nazar yang Alkitab tentukan (Hak. 11: 35; Im. 27:1-8), jangan bernazar kepada Allah tanpa berpikir secara matang (Hak. 11: 30-31), serta jangan mengingkari nazar kita kepada Allah supaya tidak mendatangkan dosa dan murka Allah (Ul. 23:21-23). Tuhan Yesus memberkati.
(AP17112020)

Pokok Doa:

  1. Doakan Indonesia khususnya Tenaga Kerja tetap tenang, sabar, bijak,tidak mudah di hasut menghadapi masa masa sulit saat ini juga Mentri Tenaga Kerja dapat memberikan kebijaksanaan , menaungi dan menyejukan Tenaga Kerja di Indonesia;
  2. Doakan GBIK dalam Gabungan Gereja Baptis Indonesia tetap dapat bekerja sama saling mendukung dan melaksanakan program yg ada di GGBI;
  3. Doakan Jemaat yang masih tidur Rohani Tuhan membangunkan membangkitkan semangatnya dan menjadi dewasa melalui acara yang di selenggarakan GBIK.