RENUNGAN BULETIN MINGGU PERTAMA JUN’19

TELADAN KESABARAN TUHAN

(Yoh. 11:45-57)

 

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa sabar itu adalah tahan atau tabah menghadapi cobaan dalam arti tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati. Dapat juga berarti tenang, tidak tegesa-gesa, tidak terburu nafsu, segala sesuatu dijalankan dengan ketenangan. Kesabaran adalah ketenangan hati menghadapi cobaan atau memiliki sifat sabar dalam hidupnya. Hidup setiap manusia di dunia ini tidaklah dapat lepas dari pencobaan, atau menghadapi peristiwa-peristiwa yang dapat membuat dirinya tertekan. Dalam situasi dan kondisi seperti itu diperlukan adanya kesabaran. Kesabaran akan menuntun orang bertindak yang bijak dan tepat serta menghindarkan diri dari pengaruh negative akibat ketidaksabarannya.

Setelah Tuhan Yesus melakukan mujizat dengan menghidupkan kembali Lazarus adik Marta dan Maria di Betania (Yoh. 11:1-44), banyak orang yang melawat melihat peristiwa bangkitnya Lazarus dari dalam kubur, akhirnya menjadi percaya (Yoh. 11:45). Namun ada sementara orang Yahudi yang tidak senang akan hal tersebut. Mereka kemudian mendatangi orang-orang Farisi dan imam-imam kepala, menceritakan apa yang telah dilakukan Yesus orang Nazaret itu. Lalu mereka mengadakan rapat Mahkamah Agama yang keputusannya adalah “Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.” (Yoh. 11:53). Perbuatan sebaik apapun yang dilakukan Tuhan Yesus, oleh karena orang-orang Farisi dan imam-imam kepala sudah tidak senang dengan-Nya, akan selalu ditanggapi dengan sikap yang negative. Mengapa mereka tidak senang dengan Tuhan Yesus? Alasan yang utama dan mendasar adalah mereka takut tersaingi pamornya di kalangan orang Yahudi maupun orang Roma. Hal ini tampak jelas dalam kitab Yohanes 11:48, “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”

Bagaimana tanggapan Tuhan Yesus menghadapi ancaman pembunuhan tersebut? Lihatlah Yohanes 11:54, “Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama dengan murid-murid-Nya.” Tuhan Yesus tidak marah, tidak bertindak gegabah, tetapi dengan arif bijaksana dan dengan penuh kesabaran Ia menghindari rencana pembunuhan atas diri-Nya dengan menyingkir ke Efraim sebuah kota yang terletak di sebelah utara Yerusalem. Mengapa Tuhan Yesus tidak marah? Dia ingin melaksanakan apa yang sudah diajarankan-Nya kepada murid-murid dan orang banyak, seperti yang tertulis dalam Lukas 6:27, “Tetapi kepada kamu yang mendengar Aku, AKu berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.” Sekalipun orang Yahudi dan iman-iman kepala menganggap Yesus musuhnya, tetapi Tuhan Yesus tidaklah demikian, Ia tetap mengasihi mereka. Betapa hebat kesabaran Tuhan Yesus menghadapi tekanan, ancaman pembunuhan terhadap-Nya, Ia dengan penuh ketabahan menghadapinya, Ia dengan penuh kesabaran tidak marah dan dapat tidak putus asa, Ia dengan kesabarannya tetap tenang tidak ketakutan menghadapinya.

Kesabaran Tuhan Yesus memberi teladan istimewa bagi kita, sudahkan kita tetap tenang, tidak marah, tidak terburu nafsu dalam menghadapi berbagai pencobaan atau peristiwa-peristiwa yang memberi tekanan hidup dalam diri kita? Berusahalah dengan minta pertolongan Tuhan, Ia pasti memberi sesuai dengan rencana-Nya. Tuhan Yesus memberkati, Amin.