Renungan 15 Januari 2017 – Praduga Yang Arogan

Bacaan Alkitab : Ayub 35 – 37
(Kurun waktu : diperkirakan 2.324 – 2.224 S.M.)
“Praduga Yang Arogan”

 

download versi word file : Renungan Harian – Tgl 15 Januari

 

Kata ‘arogan’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat berarti: (1) sombong; congkak; angkuh; (2) mempunyai perasaan superioritas yg dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Orang-orang yang arogan tidak akan mau mendengarkan orang lain – mereka merasa paling benar sendiri. Mereka bahkan menolak mendengar suara Tuhan. Inilah sikap yang dituduhkan kepada Ayub, nenek moyang pendahulu kaum beriman.  Pernahkah seseorang menuduh Anda bersikap arogan saat Anda menunjukkan sikap hidup benar pada kondisi tertentu? Apakah Anda pun beranggapan bahwa adalah salah jika seseorang mencoba menyatakan bahwa mereka adalah orang benar?   Apakah hal yang benar untuk dilakukan?

Ayub adalah contoh orang benar yang juga menjadi kepala rumah tangga yang baik, dan juga seorang pengusaha super sukses. Ia pun membantu fakir miskin, janda dan siapapun yang membutuhkan bantuan.  Ia senang memberi semangat kepada orang lain. Ia menjalani hidup yang menyenangkan hati Tuhan, dan menghindari setiap bentuk kejahatan. Kemudian Iblis berkata kepada Allah bahwa jika Ayub kehilangan segala yang dimilikinya, ia tidak akan lagi menjadi orang yang hidupnya kudus dan benar, dan ia akan mengutuki Penciptanya. Lalu Allah mengijinkan Iblis untuk menguji iman Ayub. Dalam satu hari, kemudian Ayub kehilangan nafkahnya, keluarganya (kecuali istri nya) dan seluruh kekayaannya. Namun demikian Ayub tidak mengutuki Allah, melainkan tetap memuji namaNya, dan berkata : “(1:21)… “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

(1:22) Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1 : 21-22)

Kemudian datanglah Iblis menghadap Tuhan sekali lagi dan memohon untuk mengambil kesehatan Ayub, sehingga ia akan mengutuki Allah. Allah mengijinkannya. Maka kemudian Ayub menderita sakit kulit yang parah (mungkin bisul) dan kondisinya mengenaskan. Istri Ayub kemudian menambahi penderitaannya dengan menyuruh nya untuk mengutuki Allah dan kemudian mati saja, dan komentar ketiga sahabat Ayub pun memperparah kondisi Ayub. Para sahabat Ayub menanggapi pembelaan Ayub atas sikap hidupnya yang tidak bercela, dengan memberikan ‘khotbah’ berisi teguran yang menuduhnya telah melakukan kejahatan yang berakibat pada hilangnya usaha, keluarga, kesehatan dan reputasi nya. Menurut mereka,  tentu hanya orang yang berbuat jahat saja yang menerima hukuman Allah.

Ketika ketiga “sahabat” Ayub yaitu Elifas, Bildad dan Zofar telah kehabisan pendapat, kemudian Elihu, seorang teman Ayub yang paling muda di antara mereka, mulai angkat bicara. Ia mulai merasa muak dan kesal ketika mengetahui bahwa semua pendapat yang telah dilontarkan teman-teman Ayub tidak dapat meyakinkan Ayub untuk bertobat.  Setelah menunggu dengan sabar pembicaraan kedua temannya yang terdahulu, serta untuk menghormati mereka, kemudian Elihu berkata dalam keangkuhannya yang terselubung , bahwa ia memiliki jawaban yang lebih baik.  Apakah jawaban Elihu atas pembelaan Ayub?

Elihu membela Allah. Ia berkata bahwa Allah jauh lebih hebat dari pada manusia; mungkin kita mengerti bahwa setiap manusia pasti ingin membela dirinya, namun Allah tidak perlu membela diriNya sendiri, karena sifatnya yang transenden, jauh melampaui pikiran manusia.  Hal ini benar, tetapi Elihu kemudian berpendapat lebih lanjut : “(35:12) Ketika itu orang menjerit, tetapi Ia tidak menjawab, oleh karena kecongkakan orang-orang jahat. (35:13) Sungguh, teriakan yang kosong tidak didengar Allah dan tidak dihiraukan oleh Yang Mahakuasa. (Ayub 35 : 12-13)

Elihu berkata bahwa Allah tidak menjawab seruan permohonan Ayub oleh sebab kejahatan dan sikapnya yang angkuh. Kemudian Elihu melanjutkan kalimatnya…

(36:11) Jikalau mereka mendengar dan takluk, maka mereka hidup mujur sampai akhir hari-hari mereka dan senang sampai akhir tahun-tahun mereka. (36:12) Tetapi, jikalau mereka tidak mendengar, maka mereka akan mati oleh lembing, dan binasa dalam kebebalan. (Ayub 36 :11-12).

Pendapat Elihu tersebut tidak berbeda dengan yang telah dilontarkan oleh teman-teman Ayub lainnya.  Kemudian Elihu melanjutkan : “(36:15) Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia membuka telinga mereka. (36:16)Juga engkau dibujuk-Nya keluar dari dalam kesesakan, ke tempat yang luas, bebas dari tekanan, ke meja hidanganmu yang tenang dan penuh lemak. (36:17) Tetapi engkau sudah mendapat hukuman orang fasik sepenuhnya, engkau dicengkeram hukuman dan keadilan” (Ayub 36 : 15-17).

Orang muda tersebut berpendapat bahwa Allah membiarkan Ayub menderita, agar ia dapat bertobat dan memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Dengan demikian ia beranggapan bahwa penderitaan Ayub terjadi oleh karena ia telah sarat dengan kejahatan, sehingga harus menerima pengadilan Allah. Ayub harus bertobat agar kembali dapat menerima berkat-berkat yang berasal dari kemurahan Allah.

Elihu berkata bahwa adalah salah jika manusia hendak menantang Allah. Elihu telah menjelaskan dengan benar tentang sifat Allah yang transenden.

“(36:22) Sesungguhnya, Allah itu mulia di dalam kekuasaan-Nya; siapakah guru seperti Dia? (36:23) Siapakah akan menentukan jalan bagi-Nya, dan siapa berani berkata: Engkau telah berbuat curang? (36:24) Ingatlah, bahwa engkau harus menjunjung tinggi perbuatan-Nya, yang selalu dinyanyikan oleh manusia.” (Ayub 36: 22-24)

“Sesungguhnya, Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahun-Nya tidak dapat diselidiki.” (Ayub 36 : 26)

Dengan kata lain, Elihu berkata kepada Ayub: “ dalam kecongkakan mu, engkau telah menantang Allah yang kuasanya abadi dan transenden, yang memiliki pengertian jauh di atas segala sesuatu.  Bukankah seharusnya engkau memuji namaNya, dan bukannya menuduh Ia berbuat tidak adil?  Sama seperti teman-teman Ayub lainnya, Elihu mengatakan hal yang benar, tetapi menerapkannya dengan salah; Ayub telah mengeluarkan ucapannya pada saat ia dalam keadaan sakit parah dan dukacita yang besar. Memang benar bahwa Ayub bersalah karena telah menantang Tuhan, namun dalam kasus Ayub: ucapannya mengenai integritas nya selama ini adalah merupakan hal yang benar.

Ketika kilat menyambar, Elihu menggunakannya untuk menggambarkan tentang keperkasaan Allah yang dibandingkan dengan kelemahan Ayub.  Elihu ingin agar Ayub memperhatikan kekuatan alam ciptaan Tuhan yang diatur Tuhan sendiri, sehingga ia boleh memiliki rasa takut terhadap satu-satunya Allah yang perkasa.

“(37:14) Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. (37:15)        Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? (37:16) Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, (37:17)  hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? (37:18)     Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? (Ayub 37 : 14-18)

Sekali lagi Elihu menekankan fakta tentang Allah yang transenden dalam keperkasaan dan pengertianNya.

“(37:23) Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya.

(37:24) Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya.” (Ayub 37 : 23-24).  Dalam hal ini, Elihu berkata kepada Ayub bahwa tidak bijaksana jika ia hendak menuduh Allah, karena Allah memiliki sifat transenden dalam hal hikmat dan pengertian,dan oleh sebab itu, Ia tidak akan menindas orang yang berlaku benar.

Namun dalam keadaannya yang penuh penderitaan tanpa tahu penyebabnya, Ayub menjadi orang yang defensive, hendak membela dirinya. Ucapan Ayub terkesan gamblang dan angkuh, tetapi bukan karena ucapannya tersebut maka ia mengalami penderitaan, dan bukan pula kejahatan  yang menyebabkan ia menderita. Ayub pun setuju bahwa Allah itu bersifat transenden dalam hal keperkasaan dan pengertianNya, serta adil dan benar sepenuhnya; lalu mengapa teman-teman Ayub menjadi terlalu cepat mengklaim bahwa mereka mengerti tentang rancangan Allah?

Mengapa orang benar menderita? Kita dapat saja memiliki pengertian theologis yang berkata bahwa penderitaan terjadi oleh sebab adanya kejahatan di dalam dunia (Yak.1 :15, Roma 5 :12, Roma 8 : 20-22, Yoh.1633), atau disebabkan oleh penghakiman Allah atas orang yang telah berbuat dosa, seperti yang telah diucapkan ketiga teman Ayub dan Elihu; sebab lainnya ialah karena Allah sedang membentuk kita untuk menjadi orang Kristen yang lebih baik (Yak.1 : 2-4), menjadikan kita serupa dengan gambar dan rencanaNya (Roma 8 : 28-29), ataupun agar melalui semua penderitaan itu, nama Allah dipermuliakan (Ef. 1 : 11 dan Roma 11 : 36).  Namun demikian, sebenarnya kita tidak selalu mengerti tentang rencana Allah dibalik suatu kondisi tertentu (Roma 11 : 33-36). Kemudian jika kita tidak mengetahuinya, tentunya salah jika hanya mereka-reka dan mengkhotbahi orang yang sedang menderita, dengan pengertian-pengertian yang salah dan tidak berdasar. Lalu siapakah yang dapat disebut sebagai orang yang sombong, selain orang yang berbicara dengan praduga yang buruk dan salah?

Untuk Direnungkan dan Dilakukan :

  • Janganlah menambahi lagi beban dan rasa sakit yang diderita oleh seseorang yang sedang mengalami penderitaan badani ataupun secara emosional, dengan kata-kata yang menusuk hati , ataupun dengan berpura-pura seolah-olah Anda memiliki seluruh jawabannya: itulah yang dinamakan kesombongan rohani;
  • Tetaplah melangkah dengan kehidupan yang penuh doa dan penyerahan kepada Allah, dan berikanlah semangat kepada orang yang sedang menderita.

Pertanyaan Untuk Diskusi :

  • Di dalam Ayub Pasal 36, Elihu, teman Ayub yang paling muda, mengatakan bahwa “tujuan penderitaan/ kesengsaraan ialah agar orang yang mengalaminya dapat bertobat dari dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya”; berdasarkan sifat, hikmat dan keadilan Allah yang transendental, setujukah Anda akan hal tersebut?

Ayat hafalan hari ini :

  • Yakobus 3 : 1         “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.”